JellyPages.com

Selasa, 28 Januari 2014

Ikhlas? yah itulah jawabannya

Jika kehilangan bahagiaku adalah cara untuk menciptakan bahagiamu, aku rela. Setidaknya tujuanku bersamamu adalah untuk menciptakan senyuman itu bukan. Yah bukan berarti tanpa janji, setidaknya kamu harus berjanji agar senyuman itu akan selalu ada, bukan pula aku memperhitungkan tentang apa yang telah aku berikan, namun janganlah buat usahaku menjadi sia-sia dan tidak bermakna jika suatu saat air mata itu akan kembali menghapus senyuman itu.

Bayangkan dahulu ketika aku datang dan menawarkan semua kebahagiaan yang setidaknya membuatku berusaha untuk melakukan segala cara agar terlaksana. Namun setelah lama aku disampingmu, senyuman itu berubah menjadi kebencianmu akan sikapku yang telah berubah, menurutmau apa itu adil jika keinginanku untuk bersama denganmu aku tukar dengan kepergianmu demi senyuman itu lagi. Yah entah mengapa aku selalu beranggapan bahwa semua tidak akan ada yang benar-benar bisa terjadi. Namun setidaknya dengan kehilangan ini aku berharap itu usaha terakhir yang mampu aku lakukan.

Tak perlu mencari lagi alasan untuk pergi, karena aku sudah sepakat dengan diriku di malam itu agar sudahlah kurelakan saja ini semua demi senyuman itu. Yah tentunya kebahagiaanku. Dahulu menggenggam tanganmu terasa begitu lembut dan hangat untuk dengan sederhana membuat kebahagiaan, namun kini membayangkannya saja aku takut karena itu semua membuat air matamu datang dalam mimpiku. Aku sepakat jika pergimu merupakan bahagia aku akan lakukan, namun aku belum sepakat jika suatu saat kita bertemu lagi aku tidak akan menggenggam tanganmu.

Jika cinta itu adalah ketulusanku untuk merelakanmu, aku sedang cinta karena itu yang sedang aku lakukan. Namun jika suatu saat kau meminta ku kembali dengan alasan kamu tidak mampu tersenyum tanpaku ternyata, aku mungkin tidak akan kembali karena aku tak mau lagi melihat begitu banyak air mata karenaku. Suatu saat rindumu akan selalu ada mungkin, namun bukan untukku. Bahkan ketika kau menemukan kehangatan lain dalam jemari seseorang, aku akan tetap tersenyum walaupun itu bukan jemariku. Karena aku telah menitipkanmu lewat siapa saja yang mampu membuatmu tersenyum. Yah cinta aku akan selalu ada dalam hati seseorang untuk menjaga senyuman itu.

Kita tidak sedang belajar matematika saat ini, bukan juga fisika yang membutuhkan hitung-hitungan untuk mencapai hasil dengan logis. Bukan juga ilmu sosial lain yang memerlukan teori untuk dapat memecahkan masalahnya. Ini semua hanyalah suatu pengorbanan yang tak pernah secara logis ataupun teoritis dapat digambarkan. Ini semua hanyalah bentuk tindakan dimana senyuman menjadi satu-satunya jawaban tanpa hitung-hitungan ataupun teori. Yah keikhlasan itulah ilmunya, yang selalu diajarkan oleh instansi kehidupan. Tentunya ijasahnya adalah hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar