Jika kehilangan bahagiaku
adalah cara untuk menciptakan bahagiamu, aku rela. Setidaknya tujuanku
bersamamu adalah untuk menciptakan senyuman itu bukan. Yah bukan berarti tanpa
janji, setidaknya kamu harus berjanji agar senyuman itu akan selalu ada, bukan
pula aku memperhitungkan tentang apa yang telah aku berikan, namun janganlah
buat usahaku menjadi sia-sia dan tidak bermakna jika suatu saat air mata itu
akan kembali menghapus senyuman itu.
Bayangkan dahulu ketika aku
datang dan menawarkan semua kebahagiaan yang setidaknya membuatku berusaha
untuk melakukan segala cara agar terlaksana. Namun setelah lama aku
disampingmu, senyuman itu berubah menjadi kebencianmu akan sikapku yang telah
berubah, menurutmau apa itu adil jika keinginanku untuk bersama denganmu aku
tukar dengan kepergianmu demi senyuman itu lagi. Yah entah mengapa aku selalu
beranggapan bahwa semua tidak akan ada yang benar-benar bisa terjadi. Namun setidaknya
dengan kehilangan ini aku berharap itu usaha terakhir yang mampu aku lakukan.
Tak perlu mencari lagi alasan
untuk pergi, karena aku sudah sepakat dengan diriku di malam itu agar sudahlah
kurelakan saja ini semua demi senyuman itu. Yah tentunya kebahagiaanku. Dahulu
menggenggam tanganmu terasa begitu lembut dan hangat untuk dengan sederhana
membuat kebahagiaan, namun kini membayangkannya saja aku takut karena itu semua
membuat air matamu datang dalam mimpiku. Aku sepakat jika pergimu merupakan
bahagia aku akan lakukan, namun aku belum sepakat jika suatu saat kita bertemu
lagi aku tidak akan menggenggam tanganmu.
Jika cinta itu adalah
ketulusanku untuk merelakanmu, aku sedang cinta karena itu yang sedang aku
lakukan. Namun jika suatu saat kau meminta ku kembali dengan alasan kamu tidak
mampu tersenyum tanpaku ternyata, aku mungkin tidak akan kembali karena aku tak
mau lagi melihat begitu banyak air mata karenaku. Suatu saat rindumu akan
selalu ada mungkin, namun bukan untukku. Bahkan ketika kau menemukan kehangatan
lain dalam jemari seseorang, aku akan tetap tersenyum walaupun itu bukan
jemariku. Karena aku telah menitipkanmu lewat siapa saja yang mampu membuatmu
tersenyum. Yah cinta aku akan selalu ada dalam hati seseorang untuk menjaga
senyuman itu.
Kita tidak sedang belajar
matematika saat ini, bukan juga fisika yang membutuhkan hitung-hitungan untuk
mencapai hasil dengan logis. Bukan juga ilmu sosial lain yang memerlukan teori
untuk dapat memecahkan masalahnya. Ini semua hanyalah suatu pengorbanan yang
tak pernah secara logis ataupun teoritis dapat digambarkan. Ini semua hanyalah
bentuk tindakan dimana senyuman menjadi satu-satunya jawaban tanpa
hitung-hitungan ataupun teori. Yah keikhlasan itulah ilmunya, yang selalu
diajarkan oleh instansi kehidupan. Tentunya ijasahnya adalah hati.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar