Tidakkah
kalian muak menyalahkanku atas nilai-nilai mata kuliah yang kalian terima? Salahkah
aku jika nilai-nilai tersebut tidak sesuai dengan yang kalian harapkan? Mengapa
kamu terus menyalahkanku atas apa yang kalian peroleh di akhir semester? Benarkah
itu semua murni kesalahanku karena aku terlalu subyektif untuk member nilai
kepada kalian? Atau apakah benar bahwa aku tidak pernah bisa mengajar kalian
dengan baik sehingga kalian tidak mengerti apa yang aku sampaikan di kelas?
Wahai
anak-anakku tahukah kamu bahwa akupun selalu belajar sebelum aku memberikan
materi dikelas kepada kalian. Aku selalu ingin bisa menjawab semua pertanyaan
kalian yang terkadang aku sendiri tidak mengerti apa pertanyaan tersebut. Jika kalian
pikir aku hanya mengulang materi dari tiap tahunnya, itu semua memang benar,
namun tentu saja aku harus tetap belajar karena pertanyaan yang diberikan oleh
mahasiswa berbeda-beda pula tiap tahunnya.
Wahai
anak-anakku tidaklah kalian mengerti bahwa aku bukan saja mengurus kalian
dikelas? Namun dirumah ada keluarga yang menungguku untuk kuurus juga. Jika kalian
tahu, aku tak pernah lelah untuk datang setiap pagi ke kampus, di jam yang sama
untuk memberikan materi kepada kalian agar kelak untuk bekal kalian sebagai insan
pengabdi bangsa. Aku tak pernah lelah mendengarkan semua keluhan kalian tentang
nilai-nilai kalian yang kalian rasa tidak sesuai dengan apa yang kalian
harapkan. Aku tidak pernah lelah setiap malam hingga kadang aku begadang untuk
membaca dan memeriksa hasil tugas kalian.
Wahai
anak-anakku masihkah kalian mengeluh tentang letihnya belajar dan mengerjakan
tugas-tugas yang aku berikan? Apa kalian juga tahu bahwa aku tak pernah letih,
setiap hari aku datang kekampus yang berbeda, didaerah yang berbeda untuk
mengajar juga? Namun seketika letihku hilang karena berpergian dan kurangnya
istirahat karena melihat wajah kalian yang begitu bersemangat untuk mendapatkan
pelajaran tiap harinya. Jika boleh mengeluh aku akan mengeluh, namun apa aku
tidak pernah mau mengeluh karena takut kalian juga akan mengeluh.
Wahai
anak-anakku pernahkah kalian berkaca bahwa semua nilai yang kalian dapat adalah
hasil kerja keras kalian? Lalu mengapa kalian tetap tidak terima dengan apa
yang kalian dapat. Apakah selama aku mengajar kalian selalu antusias untuk
memperhatikan dan menanyakan hal yang kalian tidak tahu? Kapan kalian berpikir
bahwa aku disini tidak hanya memikirkan diriku sendiri, namun juga aku
memikirkan kalian, berapa biaya yang kalian keluarkan, bagaimana orang tua
kalian mencari biaya tersebut. Sungguh aku memikirkan itu semua, maka itu
berhentilah menuduhku akan semua tuduhan yang memberatkanku atas hasil-hasil
yang kalian terima.
Wahai
anak-anakku bukankah kita tidak akan pernah ada status mantan hingga kapanpun? Yah
karena hingga kapanpun kalian tetap muridku. Namun terserah bagaimana kalian
akan menganggapku di masa depan. Pernahkah kalian berfikir setelah kalian
menulis sesuatu tentangku di twitter kalian, atau setidaknya me-retweet semua
twitter yang menjelekanku? Apakah semua itu membuat kalian bangga? Ataukah membuat
kalian merasa lebih gaul dibandingkan mahasiwa atau pelajar-pelajar lain? Mengapa
kalian melakukan itu semua.
Wahai
anak-anaku ini semua bukanlah keluhanku, namun aku hanya ingin memberitahu
bahwa disini bukan hanya kalian yang berjuang. Namun kita berjuang bersama, yang
tentunya untuk bangsa ini. Bayangkan ketika kalian berhasil, siapakah orang
pertama setelah ayah ibumu yang ikut bangga akan keberhasilanku? Tentunya aku,
orang yang sering kalian bicarakan kejelekannya. Dikantin, di mall atau
dimanapun ketika kalian berkumpul dengan teman-teman kalian. Orang yang selalu
kalian katakana galak dan sulit untuk memberi nilai A. Orang yang selalu kalian
jarang perhatikan ketika member materi dikelas. Sungguh aku adalah orang yang
pertama akan bangga akan semua prestasimu dimasa mendatang setelah kedua orang tuamu.
Wahai
anak-anakku maafkanlah aku jika aku tidak meluluskanmu dalam mata kuliahku. Maafkan
aku jika memberi nilai yang tidak sesuai, maafkan aku atas semua perilaku yang
kutunjukan dikelas maupun diluar kelas. Itu semua aku lakukan bukan untuk
diriku sendiri, namun itu semua untuk kalian. Ingat bukan hanya kalian yang
berjuang disini, namun kita berjuang bersama. Maka itu bantulah aku untuk
sama-sama berjuang. Setidaknya hanya dengan memperhatikanku dikelas, dan
mencoba berpikir sebelum melakukan sesuatu. Aku adalah orang tuamu dikampus,
lalu hargailah aku sebagaimana orang tuamu. Sungguh akupun menganggapmu seperti
anakku, jika tidak untuk apa semua yang ku lakukan dari awal semester hingga
akhir.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar