Bagian I
Namaku Dinda, lengkapnya Dinda Arini Putri, umurku 19 tahun, aku tinggal didaerah Bandung tepatnya didaerah kawasan sarijadi. Disini aku tinggal bersama ibu dan juga kakak perempuanku yang bernama Anissa atau aku sering memanggilnya ica, ia 2 tahun lebih tua dariku. Kami tinggal bertiga karena ayahku adalah seorang kontraktor yang sering kerja untuk bolak-balik ke luar kota. Disini, dihari ini tepatnya hari jumat tanggal 16 Januari 2009. Aku hampir lupa, aku adalah murid kelas X atau biasa disebut kelas 1 SMA. Yah sekarang, malam ini tepatnya aku ingin bercerita tentang seorang pria yang baru saja ku sore kemarin. Namanya adalah Bagas, lengkapnya adalah Bagas Perdana. Hari itu bisa dibilang sebagai hari terindah yang pernah ada dalam hidupku karena aku telah menemukan semua jawaban dalam harapan-harapanku. Sore itu ketika aku baru saja pulang sekolah, terlihat dari kejauhan pria berseragam putih abu yang berlari mendekati ku.
Namaku Dinda, lengkapnya Dinda Arini Putri, umurku 19 tahun, aku tinggal didaerah Bandung tepatnya didaerah kawasan sarijadi. Disini aku tinggal bersama ibu dan juga kakak perempuanku yang bernama Anissa atau aku sering memanggilnya ica, ia 2 tahun lebih tua dariku. Kami tinggal bertiga karena ayahku adalah seorang kontraktor yang sering kerja untuk bolak-balik ke luar kota. Disini, dihari ini tepatnya hari jumat tanggal 16 Januari 2009. Aku hampir lupa, aku adalah murid kelas X atau biasa disebut kelas 1 SMA. Yah sekarang, malam ini tepatnya aku ingin bercerita tentang seorang pria yang baru saja ku sore kemarin. Namanya adalah Bagas, lengkapnya adalah Bagas Perdana. Hari itu bisa dibilang sebagai hari terindah yang pernah ada dalam hidupku karena aku telah menemukan semua jawaban dalam harapan-harapanku. Sore itu ketika aku baru saja pulang sekolah, terlihat dari kejauhan pria berseragam putih abu yang berlari mendekati ku.
Bagas : hai, km
dinda yah?
Dinda : iah, km
siapa yah?
Bagas : oia aku
bagas, aku murid kelas X 3. Boleh aku berkenalan?
Dinda : oh boleh
namaku dinda, murid dari kelas X 5
Bagas :
terimakasih kalo begitu, salam kenal dinda. Aku langsung yah, sampai bertemu
Dinda : oh iah
sama-sama. Oke
Siang itu dengan
perasaan sangat aneh bercampur aduk, aku terus bertanya dalam hati. Siapakah
pria ini, berani sekali tiba-tiba datang lalu mengajak berkenalan. Namun tidak
dapat juga bahwa perasaan aneh tersebut terdapat sedikitnya perasaan senang
karena pria ini merupakan pria yang begitu dibicarakan oleh hampir wanita satu
sekolahku, mulai dari kelas X, XI, hingga XII membicarakannya bukan hanya
karena ketampanannya namun juga karena kehebatannya bermain gitar dalam
bandnya. Yah namun walaupun begitu aku
tidak ingin cepat ambil keputusan dulu tentang bagaimana perasaanku karena
sebagaimapun dia disekolahku, tetap saja dia hanyalah pria yang baru saja ku
kenal. Tidak lama dari itu, seperti biasa aku mendatangi teman-teman satu
kelasku yang juga sering bermain denganku. Mereka adalah Shinta, Marsya, dan
Dinar. Mereka adalah teman baikku, dapat dikatakan mereka adalah sahabatku di
sekolah bahkan diluar sekolah. Mereka adalah tempatku berbagi semua, termasuk
cerita tentang apa yang baru saja ku alami. Ketika itu tepatnya kami sedang
diam seperti biasa di warung gaul (warung didaerah dekat sekolah) yang biasa
dijadikan tempat kami berkumpul sepulang sekolah untuk dihabiskan dengan
mengobrol bersama-sama.
Dinar : din,
kemana dulu tadi. Kok baru kesini?
Dinda : iah tadi
ada urusan dulu nay(panggilan untuk dinar) sorry
Marhsa : yaudah
sekarang mau kemana kita?
Shinta :
eh..eh..eh tunggu dulu, tadi kayanya aku liat ada yg kenalan sama bagas deh
Marsha : bagas ?
anak X 3 itu?
Shinta : iah bagas
cowo paling eksis disekolah kita
Dinda : eh..eh..
Cuma kenalan doang kok yah sebagai sama-sama anak satu sekolah
Marsha : hati-hati
loh din, saingan km banyak loh
Shinta : yaudah
sih biarin aja sya(panggilan untuk marsha) kalo emang bagas sukanya sama dinda
yah mau apa yang lain juga kan?
Dinar : aduh aduh
dinda udah ada yang ngeceng aja nih hahaha
Shinta, marsha,
dan dinar bersama-sama menertawakanku seperti sedikit mengejek tentang hal yang
kualami tadi.
Tidak lama dari itu kami berempat memutuskan untuk pergi ke toko
buku yang tempatnya ada di jalan merdeka depan BIP ( Bandung Indah Plaza) untuk
mencari cari buku pelajaran dan tidak ketinggalan juga buku bacaan seperti
novel, yah karena kami berempat sangat suka membaca novel. Sampai hampir petang
tiba kita memutuskan untuk pulang karena takut terlalu larut dan akan dimarahi
oleh ibu kita masing-masing. Dan ditengah perjalanan ketika sedang berjalan
keluar dari toko buku, tiba-tiba kami bertemu dengan bagas yang terlihat keluar
dari tempat bermain billiard yang tidak jauh dari toko buku. Dengan perasaan
malu kepada Marsha, Shinta, dan Dinar seketika aku lalu menyuruh kepada mereka
untuk berjalan lagi lebih cepat karena takut Bagas menghampiri ku dan aku habis
diejek oleh ketiga gadis itu lagi. Dan kamu tahu apa yang terjadi, yah seperti
yang kukira Bagas menghampiriku lalu menyapaku dan teman-temanku.
Bagas : hai dinda,
ketemu lagi. Hai teman-teman dinda
Marsha : hai
Bagas, aku Marsha
Tak ketinggalan
Dinar dan Shinta pun memperkenalkan diri mereka, lalu dengan wajah memerah
karena malu. Bukan malu karena Bagas menghampiriku, namun karena tak tahu apa
yang akan teman-temanku katakana soal ini.
Dinda : hai Bagas,
oia kami duluan yah udah sore mau pulang nanti takut dicariin
Bagas : oh begitu
yah, gimana kalo kalian aku antar saja?
Tanpa
persetujuanku tiba-tiba Shinta, Marsha, dan Dinar menyetujui untuk pulang
bersama Bagas. Dan tanpa bisa menolak juga akupun akhirnya ikut pulang
bersamanya. Ditengah perjalanan, didalam mobil bagas, kami berlima berbicara
tentang sekolah, tentang guru, anak-anak nakal yang ada disekolah dan
lain-lain. Setelah mengantarkan Marsha, Shinta, dan Dinar. Hanya tersisa aku
dan Bagas saja, karena rumahku dengan teman-temanku tidak dekat. Lalu dalam
mobil pun karena aku masih merasa malu, aku berusaha membuang malu itu dengan
bernyanyi lagu favoritku yaitu lagu Ten 2 Five-Love is you. Dengan seketika
Bagas mengajak ku berbicara tentang lagu tersebut.
Bagas : suka ten 2
five juga dinda?
Dinda : oh suka
banget he..he..he kenapa emang?
Bagas : wah kalo
gitu sama dong aku juga suka banget
Dinda : oia? Suka
lagu yang mana?
Bagas : semuanya,
bahkan aku punya koleksi mulai dari poster, baju, hingga semua album ten 2 five
mulai dari koleksi cd hingga kaset tape. Tapi aku paling suka lagu Love is you
Aku tak bereaksi
apa-apa setelah Bagas mengatakan itu semua, aku hanya menjawab seperlunya
dengan jawaban oh saja. Lalu tidak lama dari itu Bagas memutarkan lagu
kesukaanku itu dalam tape yang ada dimobilnya. Seketika suasana begitu hangat,
entah karena aku sedang bersama pria yang sangat terkenal disekolahku, atau
karena lagu yang aku suka itu.
Tidak lama
kemudian aku sampai dirumah, dan tidak lama juga aku sesegera mungkin turun
dari mobilnya, lalu mengatakan terimakasih karena takut dikatakan tidak sopan
setelah diantar langsung pergi begitu saja. Dan lalu Bagas memanggilku kembali.
Bagas : dinda,
tunggu
Aku berbalik dan
berbicara lagi kepadanya
Dinda : eh..
kenapa bagas, ada yang ketinggalan atau yang lupa yah?
Bagas : iah, aku
dinda aku lupa menanyakan nomer hp mu, hehehe. Boleh aku memintanya?
Dinda : untuk apa?
Bagas : yah untuk
menghubungi mu dong, boleh?
Dinda : kan bisa
ketemu disekolah
Bagas : yah itupun
kalo boleh, jika tidak yah aku akan meminta kepada temanmu hehe becanda
Dinda : oh gitu
yaudah nih (member tahukan nomer hp ku)
Bagas :
terimakasih Dinda
Dinda : iah
sama-sama Bagas, aku masuk dulu yah, oia apa mau masuk dulu ? soalnya tidak
enak sudah petang dan takut ibuku mencariku
Bagas : tidak
perlu, aku langsung saja. Salam saja buat mamahmu dan sampai bertemu disekolah
Dinda : oke kalo
begitu, duluan yah bye
Dengan bergegas
aku masuk kerumah karena takut ibu marah padaku karena itu sudah jam 6 lebih
dan aku pulang terlalu larut. Benar tadi itu adalah hal yang paling tidak
terduga olehku, perasaan malu ku hampir saja membuat aku menjadi orang yang
tidak sopan dengan hampir lupa mengajak seseorang yang baik mengantarku sampai
kerumah tidak kutawarkan untuk masuk. Tapi coba saja bayangkan jika kalian
menjadi aku waktu itu, mungkin kalian akan merasakan hal yang sama. Ah entah
aku berlebihan tapi biarlah karena aku yang merasakannya bukan km ataupun
kalian.
Sesampainya
dirumah ketika aku membuka pintu, dengan wajahnya yang sedikit cemas Ibu
berdiri didepan pintu menunggu kedatanganku pulang. Maklum aku dan kakaku tidak
pernah pulang kerumah diatas jam 5 sore karena itu memang sudah peraturan dari
orang tuaku. Memang sedikit berlebihan tapi aku yakin itu semua demi kebaikan
aku dan kakak karena orang tuaku khawatir terjadi apa-apa dengan kami. Yah aku
wajarkan karena akupun tidak ingin menjadi anak yang tidak menurut. Dengan
sedikit wajah cemasnya ibu menyapaku.
Ibu : dari mana
saja Dinda kok baru pulang jam segini
Dinda : iyah maaf
ibu, tadi aku sama temen-temen seperti biasa mampir dulu ketempat buku
Ibu : oh yasudah
jangan diulangi lagi yah, ibu khawatir kalau sampai km dan kakakmu pulang
terlalu larut karena diluar sana banyak orang jahat.
Dinda : iah ibu
maaf yah
Ibu : yasudah
masuk kekamarmu dan ganti bajumu yah.
Dinda : iah ibu
Ibu : eh tunggu
dulu, tadi siapa yang mengantarmu, ibu sepertinya belum pernah melihatnya yah?
Dinda : oh, itu
Bagas teman sekolah Dinda bu.
Ibu : oh begitu,
yasudah sekarang ganti bajumu.
Lalu aku
meninggalkan ibu dan bergegas untuk kekamarku untuk mengganti baju sekolah
dengan baju tidurku. Sesudah mengganti baju, aku kembali keruang keluarga untuk
berkumpul dan berbagi cerita tentang bagaimana hari ini dengan ibu dan ica yang
sudah lebih dulu ada di ruang keluarga sambil menonton tv. Tak lama kemudian
ibu menyuruh kami berdua untuk makan bersama, makan malam sederhana namun
selalu terasa nikmat karena dilakukan bersama kedua orang yang aku sayangi. Yah
walaupun setiap hari namun inilah saat-saat yang selalu kami tunggu, yah makan
dan berkumpul bersama untuk menghilangkan lelah karena rutinitas kami setiap
harinya. Hidangannya pun tidak terlalu istimewa hanya sayur bayam dan ayam
goreng saja, namun jika ibu yang memasaknya serta memakannya bersama ibu dan
kakaku, aku rasa itu adalah makanan ter enak dan termewah didunia karena
diringi rasa sayang akan hangatnya keluarga kami. Dan tak lama setelah makan
aku kembali kekamarku untuk membaca-baca kembali materi pelajaran yang telah
dipelajari di sekolah, sambil diam dan hanya melihati buku aku kembali teringat
tentang Bagas dan semua yang kulakukan hari ini bersamanya.
Walaupun hanya
berbicara sebentar ketika berkenalan dengannya, dan saat dia mengantarkanku
pulang dari toko buku namun aku yakin ini tidak seperti perkenalan biasanya
yang pernah ku alami. Tapi ku pikir, untuk apa aku memikirkannya, pria yang
belum begitu ku kenal dan yah setiap wanita disekolah juga pasti memikirkannya.
Jadi tak perlulah aku memikirkannya. Dan malam itu telah kuputuskan untuk tidur
karena aku tak ingin terus menerus merasa aneh seperti itu.
Hari ini hari
sabtu tanggal 17 Januari 2009 tepat jam 10 pagi, aku baru saja terbangun dari
tidurku semalam, dengan wajah masih mengantuk dan mengenakan pakaian tidurku,
aku diam sejenak dikasurku untuk melamun sejenak. Yah itulah hal yang sering ku
lakukan ketika aku bangun tidur. Yah tak lama kemudian aku langsung menuju
kamar mandi untuk mencuci mukaku. Oia aku lupa memberi tahu bahwa hari sabtu
sekolahku libur. Yah dan kebiasaan yang sering aku dan keluargaku lakukan saat
libur adalah berbelanja bersama ke pasar untuk membeli bahan masakan. Setelah itu
tidak ada kegiatan yang istimewa pada hari ini. Karena pada saat malam pun aku
jarang keluar rumah untuk main bersama teman-temanku, yah kamu tau sendiri
mengapa alasannya.
Hari minggu,
seperti biasa aku bangun jam 10 pagi dan dengan kegiatan yang sering ku lakukan
ketika bangun, namun berbeda karena aku mulai bersiap-siap untuk pergi karena
ada janji dengan ketiga sahabatku untuk menonton film di bioskop. Yah dan
setelah mandi aku lalu bergegas untuk pergi karena sahabtku sudah menungguku.
Ibu : kemana din
jam segini udah pergi?
Dinda : mau main
bu sama Shinta, Marsha, dan Dinar
Ibu : mau main
kemana? Awas pulangnya jangan terlalu larut
Dinda : nonton bu,
iah ibu siap
Ibu : yasudah kalo
begitu hati-hati
Dinda : oke bu,
oia lupa minta uang hehehe
Ibu : ah dasar
kalo urusan uang saja kamu tidak pernah lupa
Dinda : makasih bu
dadah
Setelah sampai
dibioskop tempat kami menonton, seperti biasa kami mengobrol layaknya seorang
wanita seusia kami pada umumnya. Dan tak lama menunggupun akhirnya kami
menonton karena tiketnya sudah dibelikan oleh Dinar yang datang terlebih
dahulu. Setelah usai menonton, kami lanjut untuk makan sebelum pulang, tidak
jauh di kantin yang ada di mall tempat kami menonton.
Dan ketika kami
sedang makan, tibalah pacar dari sahabat-sahabatku, namun hanya aku yang tidak
punya pacar. Yah aku sudah biasa karena memang aku sering menjadi obat nyamuk
ketika mereka bersama pacarnya. Merasa sepi ditengah keramaian, namun apa boleh
buat. Setidaknya aku senang bahwa sahabatku memiliki pasangan. Yah walaupun aku
tidak punya.
Tidak lama setelah
makan, kami memutuskan untuk pulang. Marsha dan Dinar pamit untuk pulang
berpisah dengan aku Shinta dan pacarnya. Yah Shinta mengantarkanku pulang
karena rumah Shinta lah yang paling dekat denganku diantara dua sahabatku yang
lain. Sesampainya dirumah aku langsung bergegas masuk kerumah. Dan ketika sampai
dirumah kak Ica langsung menyapaku.
Ica : hey din dari
mana?
Dinda : habis
nonton kak kenapa?
Ica : oh gak
apa-apa, cuma nanya aja kok
Dinda : oh gitu, yaudah dinda langsung kekamar yah
kak.
Ica : oke
Akupun bergegas
untuk masuk kekamar walaupun tak tahu apa yang akan aku kerjakan di kamar. Yah hanya
diam, mengisi sedikit sisa pekerjaan rumahku dan tentunya mendengarkan lagu
kesukaanku. Sampai akhirnya aku tidur dan haripun tanpa terasa mulai beranjak
dan berganti.
Hari ini aku
kesiangan untuk pergi kesekolah, dan aku dengan malu aku dihukum karena tidak
mengikuti upacara bendera. Seperti biasanya murid-murid yang dihukum karena
terlambat dikumpulkan didepan gerbang untuk menunggu hingga upacara selesai dan
selanjutnya akan dihukum menghormat bendera selama lima belas menit sebelum
memasuki kelas. Dan kamu tahu apa yang membuatku lebih merasa malu hari itu? Yah
Bagas melihatku lalu tersenyum kepadaku yang sedang menghormat bendera. Namun aku
tidak membalas senyumnya bukan karena aku sombong atau marah kepadanya, namun
karena aku malu semalu-malunya. Entah bagaimana yang dapat kugambarkan namun
intinya semua gambaran tidak dapat mendeskripsikan rasa malu ku saat itu.
Setelah hukuman
selesai aku bergegas untuk masuk kelas, dan ketika dikelas aku mendapatkan sms
entah dari siapa. Dan kamu tahu ketika aku buka apa isinya dengan nomer tanpa
nama dan tidak kukenal.
"Hey Dinda, km terlihat lucu ketika sedang menghormat bendera. He..he..he
jangan marah yah, tapi wajahmu terlihat sangat merah saat kepanasan tadi."
Masih dengan
perasaan yang bingung karena tidak tahu dari siapa sms itu, aku terus diam dan
memikirkan siapakah orang yang lancang mengirimkan sms kepadaku seperti itu. Ah
sudahlah tidak perlu kupikirkan karena jika aku tahu, aku akan marah kepada
orang itu. Yah setelah 3 jam belajar dikelas, akhirnya saat yang ditunggu oleh
semua siswa. Yah bel istirahat berbunyi. Dan seperti biasa aku dan sahabatku
lalu kekantin untuk makan bersama dan mengobrol pastinya. Namun dikantin
tiba-tiba Bagas menghampiri kami.
Bagas : hey kalian
boleh aku ikut gabung duduk disini
Serentak Shinta,
Marsha, dan Dinar menjawab boleh..
Bagas : apa boleh
aku duduk disini Dinda?
Dinda : yah boleh
silahkan
Lalu Bagas duduk
disebelahku, yah jika kamu tahu saat itu aku masih merasa malu karena kejadian
pagi itu saat bagas melihatku dan tersenyum. Kami berlima akhirnya makan dan
mengobrol dengan sangat gembira. Membicarakan apapun seolah kantin itu hanyalah
milik kami berlima tanpa memperdulikan orang lain. Setelah beres makan kami
akhirnya kembali lagi ke kelas untuk melanjutkan pelajaran berikutnya. Shinta, Dinar,
dan Marsha berjalan duluan meninggalkan aku dan Bagas. Seolah mereka sengaja
ingin aku berdua dengan Bagas. Diperjalanan menuju kelas bagas memberi tahuku
sesuatu.
Bagas : dinda tadi
sampai tidak sms ku?
Dinda : hah? Sms yang
mana?
Bagas : oh mungkin
engga sampai, gak bukan sms apa-apa kok hehehe.
Dinda : oh iah
mungkin ga kekirim
Bagas : iah, eh
udah didepan kelasmu nih. Aku lanjut kekelasku yah dinda
Dinda : iah bagas
dadah
Bagas : dadah
sampai bertemu lagi dinda
Sempat aku berpikir
bahwa sms pagi tadi adalah sms dari Bagas, namun aku tak mau menanyakannya
karena mungkin memang tidak terkirim sms darinya. Namun masih seperti pagi
tadi, aku hanya diam dikelas dan memikirkan siapakah orang yang telah memberiku
sms seperti itu. Yah tapi aku berpikir bagaimana jika pulang nanti aku bertanya
lagi kepada Bagas mengenai sms yang aku terima apakah merupakan sms darinya
atau bukan. Yah aku tak mau pusing lagi aku tunggu saja hingga pulang nanti.
(bel pulang
sekolah bordering) yah aku lalu bergegas keluar kelas meninggalkan sahabatku
untuk mencari Bagas. Namun aku tidak menemukannya, mungkin ia sudah pulang
lebih dulu dari aku. Pikirku berkata untuk apa aku mencarinya, buang-buang
tenaga saja, dan kalo memang Bagas yang mengirim sms tadi itu, mungkin suatu
saat dia akan bilang kepadaku. Namun biarlah tunggu saja siapa yang
mengirimnya, jika tahu nanti aku akan langsung memarahinya.
Seperti biasa aku
dan sahabatku berkumpul dulu di warung gaul. Namun setelah aku tiba di warung
gaul, kamu tahu apa yang kutemui? Yah Bagas ada disana bersama 2 teman prianya
yaitu Dika dan Roni. Dan bagas menyapaku, lalu dia menawariku untuk mengantarku
pulang. Aku memutuskan untuk tidak menerima tawarannya namun Marsha dan Dinar
seolah memaksaku untuk menerima tawaran dari Bagas. Oh tidak mereka berdua
membuatku mati kutu, karena jika aku menolak tawarannya saat itu mungkin Bagas
akan merasa malu depan teman-temanku dan juga teman-temannya. Akhirnya tidak
lama diam diwarung gaul aku dan Bagas pulang, sekali lagi bukan karena aku yang
ingin menerima tawarannya namun karena aku merasa tidak enak dan tentunya
karena teman-temanku yang mengatakan iah seolah memaksaku untuk pulang bersama
Bagas.
Ditengah perjalanan Bagas memutar lagi lagu
kesukaanku dan memberikanku kaset dari band tersebut.
Dinda : ini serius
buat aku bagas ? tidak perlu, aku malu menerimanya
Bagas : iah ambil
aja dinda, kamu suka kan?
Dinda : terus
kamu? Bukankah kamu juga suka dan mengoleksi
Bagas : iah, tapi
gak apa-apa itu buat kamu aja. Aku masih punya CD nya kok
Dinda : serius
bagas?
Bagas : iah
Dinda : yaudah deh
makasih yah bagas
Bagas : iah dinda
sama-sama dengerin yah
Perasaanku saat
itu sangat campur aduk, senang, malu, dan tak tahu lagi seperti apa. Intinya aku
sendiri tidak dapat menggambarkannya. Namun jangan salah sangka dulu, aku
senang bukan karena Bagas memberiku sesuatu. Namun karena yang diberikannya
adalah kaset band kesukaanku. Tak lama kemudian aku sampai dirumahku.
Dinda : makasih
bagas udah nganterin dan ngasih kaset juga
Bagas : sama-sama
dinda he..he
Dinda : oia bagas
mau mampir dulu
Bagas : tidak
perlu aku langsung saja, aku udah ada janji mau latihan band
Dinda : oh gitu
yaudah deh aku masuk yah
Bagas : iah dinda
dadah
Ketika masuk
dirumah aku melihat suasana hening dalam rumah seperti tidak ada siapa-siapa. Yah
betul ternya ibu dan kakakku sedang pergi entah kemana, mungkin kerumah tante
monic. Tetanggaku yang rumahnya berada sekitar tujuh rumah dari rumahku. Beliau
teman ibuku, mereka sudah berteman dari sebelum aku lahir. Dan tentunya
keluargaku sering sekali kerumahnya, dan juga beliau sering kerumahku untuk
berkunjung juga.
Aku langsung
kekamarku untuk menaruh tas. Dan tiba-tiba ada sms dari orang yang nomernya tak kukenal itu. Smsnya adalah
"Hey, jangan lupa dengerin yah lagu dari kasetnya dinda hehehe"
Dan ternyata
benar, orang itu adalah Bagas. Orang yang mengirimku sms tadi pagi, seketika
perasaan ingin marahku menjadi hilang tak tahu kemana dan entah mengapa, aku
tahu. Apa kamu tahu mengapa aku tidak jadi untuk marah? Sungguh entah mungkin
karena dia memberiku kaset. Tapi aku bukanlah orang seperti itu yang tiba-tiba
dapat menghilangkan rasa marah karena orang memberiku hadiah, kecuali pada ibu,
ayah dan kakakku saja aku mudah untuk memaafkan orang. Namun yah ini pertama
kali aku dapat memaafkan, bukan memaafkan mungkin tepatnya menghilangkan rasa
ingin marahku. Ah sudahlah aku bingung untuk menceritakan ini. Akupun membalas
smsnya.
"Oh ini nomer km bagas? Iah makasih yah aku seneng dapet kaset itu
he..he..he"
Bagas pun tidak
membalas lagi smsku, entah sesungguhnya apa yang diinginkan orang ini aku tak
tahu. Namun sepertinya dia tahu bahwa aku sangat marah dengan sms-nya tadi
pagi, dan kini hilang marahku. Ah apakah dia ini adalah seorang peramal, atau
memiliki indera ke-enam sehingga dapat membaca keadaanku? Mungkin aku
berlebihan, namun perasaanku bahwa Bagas seperti orang yang sudah lama aku
kenal nampaknya tidak salah karena mungkin dia seperti tau kehidupanku dan apa
yang aku rasakan tanpa member tahunya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar