JellyPages.com

Selasa, 14 Juli 2015

RINDU

Malam ini, aku disini masih dengan perasaan yang sama. Menunggu, bukan menunggu seseorang yang akan datang tidak lama lagi. Namun menunggu, agar aku pantas untuk menemuinya suatu saat nanti. Mengapa aku mengatakan pantas? karena yah saat ini aku belum lah pantas untuk siapapun jika ingin berada disampingku. Tak terasa sudah beberapa hembusan angin yang kita lewati tanpa saling bertatap. Dahulu, disini kita pernah bersama-sama menghabiskan waktu untuk saling tertawa. Kini, semua itu terasa tak mungkin, walapun aku percaya tak akan ada yang tak mungkin di dunia ini. Entah apa, senyummu saat itu masih sangat ku rasakan hingga saat ini sebelum aku terjaga. Aku tak tahu, apakah aku masih bisa merasakan senyuman itu saat melihat ke arahku, aku rasa senyum itu akan selalu ada walaupun mungkin bukanlah tertuju padaku lagi.

Masih dengan perasaan yang sama dengan kala itu, aku masih berharap dan mungkin akan selalu berharap bahwa Tuhan dengan segala kekuasaannya mampu mengizinkan aku lagi memegang erat tangannya tanpa harus melepaskannya lagi. Aku tak pernah menganggap ini adalah sebuah hukuman, karena dengan kekuasaan-Nya, Dia masih memberi kepercayaan padaku, dengan segala perasaan yang menusuk ini. Aku tak tahu ini apa, namun hanya seperti cambuk bagi diriku sendiri saat aku membayangkan senyuman indahnya saat menatapku. Itu saja, mungkin orang mengatakan ini adalah siksaan ketika dua orang yang saling memiliki rasa namun tidak dapat bertemu, namun aku selalu menyebut ini RINDU.

Yah kalian bisa anggap aku berlebihan dengan semua rasa ini, namun percayalah tak akan pernah ada yang berharap merasakan apa yang aku rasakan. Ini bukan soal jarak, ataupun keterbatasan waktu, namun ini semua adalah persoalan kesepakatan. Dimana kita tetap saling menjaga walaupun tanpa bertatap, dimana kita akan tetap berucap doa walaupun hanya berujung harap. Aku mengerti, bahwa untuk saat ini semua yang kami mau hanyalah mimpi kami saja, tapi aku yakin bahwa dengan kepercayaan kami masing-masing itu semua akan datang menjadi nyata. Yah tentu saja dengan doa yang terus-menerus dilantunkan oleh kami. Bukan, aku percaya bukan hanya aku saja yang berpikir begitu, namun dia pun berpikir sama karena aku rasakan itu semua saat Tuhan mengatakannya lewat angin yang membawa RINDU.

Aku tidak pernah berpikir bahwa kami berpisah, aku selalu menganggap ini semua adalah masa persiapan untuk kami untuk suatu hari nanti. Aku juga tidak pernah menganggap ini adalah sebuah akhir bagi kami, karena aku selalu percaya bahwa ini merupakan awal bagi kami untuk sesuatu yang lebih indah di depan. Yah tentu saja setelah melewati ini, kami akan bersama kembali. Memperbaiki apa yang telah kami buat sebelumnya. Setidaknya jika saat itu, aku selalu memberi waktuku untuknya, Tuhan mengingatkanku, bahwa saat ini dan seterusnya waktuku hanyalah untuk Tuhan. Mungkin untuk saat ini, semua RINDU ku hanya mampu ku katakan lewat tulisan-tulisan tak berarti seperti ini. Namun suatu saat aku tidak akan pernah me RINDU kan nya lagi karena saat Tuhan mengatakan "inilah waktunya", aku tidak akan pernah melepaskan genggaman tangannya itu.

Mungkin kalian hanya akan mengolok-olokku dengan tulisanku ini, namun aku tidak peduli. karena kami hanyalah dua orang yang sedang berusaha untuk lebih baik dan baik lagi. Mungkin untuk saat ini, kami tidak bisa saling mengingatkan. Namun dalam diri kami, kami selalu yakin bahwa doa-doa yang sering kami kirim, akan senantiasa selalu menguatkan kami dalam melakukan segalanya. Setidaknya dulu kami selalu bersama, dan itu adalah hal yang sangat indah walaupun penuh kesalahan, namun kami saling berjanji untuk saling berjuang meraih semua keindahan itu. Walaupun tidak akan seperti dulu, namun kami yakin akan lebih indah. Akhir kata untuk tulisan ini "aku selalu menyukai huruf y karena y dalam bahasa inggris berarti jalan. dan aku harap bahwa y adalah jalanku". terimakasih

























Selasa, 23 Desember 2014

Maybe it's only word, but i love you mama

Ibu, aku tak punya apa-apa untuk diberikan pada harimu. Ya hari yang selalu diperingati setiap tahun pada tanggal 22 Desember sebagai hari mu. Hari Ibu. Ingatkah ketika dulu kau melahirkan ku dan pertama kali aku memanggilmu ibu? Aku yakin kau masih mengingat semuanya, aku yang menulis ini semua tidak pernah mengingatnya. Haha betapa bodohnya aku.
Namun aku ingat sampai detik ini kau selalu mengeluarkan keringatmu untukku, anakmu yang terkadang bahkan sering mengecewakanmu. Aku bukan apa-apa tanpamu, bahkan tak pernah ada jika tanpamu, namun engkau akan selalu ada walaupun tanpaku. Yang aku ingat adalah kuatnya dirimu menahan rasa sakit untuk tiga hari tiga malam saat mencoba menolongku untuk keluar ke dunia ini. Bukankah kau pikir rasa sakit itu tidak akan pernah  ada lagi? Aku tahu kau rasa bahwa kau  salah berpikir karena rasa sakit karena aku telah beranjak dewasa sering kau alami, bahkan lebih dibanding saat pertama aku terlahir. Ibu jika ada kata yang lebih indah selain maaf untuk saat ini, aku ingin mengatakannya, atau jika ada hal terbaik selain terimakasih yang mampu aku lakukan, aku akan melakukannya. Maaf karena terlalu sering membuatmu sulit selama ini, dan terimakasih untuk selalu mendoakanku walaupun terlalu banyak luka karena ku. Aku berjanji akan menjadi anak yang akan kau banggakan, yah setidaknya untuk saat ini aku berusaha.
Ibu berapa banyak air mata yang telah kau keluarkan? Bahkan yang terakhir kau keluarkan itu, aku yakin seumur hidupku takkan bisa menggantinya. Ibu, aku selalu berbuat dosa kepadamu, namun kau selalu berhasil memaafkan aku. Yah kau memiliki mental yang sangat berbeda dengan siapapun, karena tak selalu setiap orang dapat dengan mudah memaafkan. Jika memang malaikat itu berbentuk manusia, aku yakin bentuknya adalah sepertimu. Terimakasih telah rela mengorbankan waktumu hingga kini untukku, untuk waktu yang telah terlewati aku minta maaf atas segala sesuatunya. Dan untuk waktu yang sangat berharga selama hidupku, aku berterima kasih telah meluangkannya bersamaku. Selamat Ibu :)

Sabtu, 06 Desember 2014

DESEMBER

disini lagi-lagi di bulan yang sama aku kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku. dahulu, setahun yang lalu aku merasaka hal yang tak ingin aku rasakan kembali. aku rasa itu semua hanyalah perjalanan saja untuk aku menjemput pelangi itu, namun ternyata kini awan hitam itu kembali datang dan menutup semua pelangi yang selalu ingin aku raih.sirna, kata itu yang selalu ada di benakku, entah apakah alam sedang tidak bersahabat atau aku yang selalu membuat awan hitam itu namun yang kurasa aku selalu kecewa setiap kali aku memandang langitku yang berubah menghitam.aku pikir saat itu adalah awal aku dapat melihat lagi pelangi di langit yang biru, dengan datangnya awan di setiap pagi dan siangku, namun kini awan itu berubah kembali menjadi warna hitam, sangat pekat, gelap sehingga mungkin pelangi pun enggan menemui ku.aku tahu itu awan yang berbeda dengan dahulu, namun tetap saja keduanya menghitam dan menjauhkanku dari pelangi yang aku idamkan. bahkan senja yang selalu aku lihat belakangan ini pun kini tak lagi indah seindah dua senja dahulu kala. aku marah pada senja karena tak seindah dulu, namun apapun yang kulakukan senja tetaplah senja, tidak berubah, akan selalu indah sebagaimana aku memandangnya. jika aku melihatnya dengan mataku yang mulai berembun karena air mata, maka aku tidak akan pernah melihat ke indahan dalam senja lagi, namun jika aku melihatnya dalam semua keindahan yang aku rasakan, senja adalah hal yang sangat indah dan bisa dikatakan dapat menggantikan pelangi. yah walaupun aku tahu aku tak pernah dapat melihat dan merasakan pelangi di bulan ini, namun aku selalu yakin bahwa pelangi akan selalu ada ketika aku yakin bahwa memang ia akan benar-benar ada. seperti saat ini, aku melihat sedikit ada cahaya yang sangat bersinar terang dan indah di langitku, mungkin itu pelangi. tapi aku tak mau berharap dahulu sebelum penagi itu benar-benar muncul di hadapanku. namun setidaknya aku mampu tersenyum karena cahaya itu mampu membuatku bangkit dan berharap kembali bahwa pelangi itu selalu ada untukku. yah baru-baru ini aku melihat dan merasakan cahaya itu, walaupun sesungguhnya cahaya itu sudah tak asing bagiku, namun aku baru dapat merasakannya saat ini, yah mungkin karena saat itu ia meredup karena tertutup kedua awan pekat yang telah datang terlebih dahulu. namun keraguanku pun mulai muncul seiring cahaya itu, apakah cahaya itu akan berubah kembali menjadi awan hitam dan menutupi pelangi seperti sebelumnya? emtahlah, aku sedang tak bisa bahkan tak ingin mengira-ngira semua itu, aku hanya berharap cahaya itu akan selalu muncul dan bahkan lebih terang dan menjadi pelangi yang selalu aku harap. kini aku hanya bisa berharap sambil tersenyum melihat cahaya itu, karena hanya itu yang bisa aku lakukan sebagai manusia tak berdaya ini. yah walaupun terlalu dini membicarakan tentang cahaya yang sedang baru aku rasakan ini, namun setidaknya aku merubah pikiranku selama ini. aku mampu merubah semua bayanganku bahwa aku akan selalu melihat awan hitam di bulan ini, namun kini aku yakin bahwa ternyata aku pun bisa melihat cahaya di bulan ini. terimakasih cahaya baru hidupku, aku berharap kau adalah pelangi yang belum terlihat dan aku terlihat dan terasa olehku suatu saat nanti.

Jumat, 31 Januari 2014

Pahlawan Tanpa Jasa

Tidakkah kalian muak menyalahkanku atas nilai-nilai mata kuliah yang kalian terima? Salahkah aku jika nilai-nilai tersebut tidak sesuai dengan yang kalian harapkan? Mengapa kamu terus menyalahkanku atas apa yang kalian peroleh di akhir semester? Benarkah itu semua murni kesalahanku karena aku terlalu subyektif untuk member nilai kepada kalian? Atau apakah benar bahwa aku tidak pernah bisa mengajar kalian dengan baik sehingga kalian tidak mengerti apa yang aku sampaikan di kelas?

Wahai anak-anakku tahukah kamu bahwa akupun selalu belajar sebelum aku memberikan materi dikelas kepada kalian. Aku selalu ingin bisa menjawab semua pertanyaan kalian yang terkadang aku sendiri tidak mengerti apa pertanyaan tersebut. Jika kalian pikir aku hanya mengulang materi dari tiap tahunnya, itu semua memang benar, namun tentu saja aku harus tetap belajar karena pertanyaan yang diberikan oleh mahasiswa berbeda-beda pula tiap tahunnya.

Wahai anak-anakku tidaklah kalian mengerti bahwa aku bukan saja mengurus kalian dikelas? Namun dirumah ada keluarga yang menungguku untuk kuurus juga. Jika kalian tahu, aku tak pernah lelah untuk datang setiap pagi ke kampus, di jam yang sama untuk memberikan materi kepada kalian agar kelak untuk bekal kalian sebagai insan pengabdi bangsa. Aku tak pernah lelah mendengarkan semua keluhan kalian tentang nilai-nilai kalian yang kalian rasa tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan. Aku tidak pernah lelah setiap malam hingga kadang aku begadang untuk membaca dan memeriksa hasil tugas kalian.

Wahai anak-anakku masihkah kalian mengeluh tentang letihnya belajar dan mengerjakan tugas-tugas yang aku berikan? Apa kalian juga tahu bahwa aku tak pernah letih, setiap hari aku datang kekampus yang berbeda, didaerah yang berbeda untuk mengajar juga? Namun seketika letihku hilang karena berpergian dan kurangnya istirahat karena melihat wajah kalian yang begitu bersemangat untuk mendapatkan pelajaran tiap harinya. Jika boleh mengeluh aku akan mengeluh, namun apa aku tidak pernah mau mengeluh karena takut kalian juga akan mengeluh.

Wahai anak-anakku pernahkah kalian berkaca bahwa semua nilai yang kalian dapat adalah hasil kerja keras kalian? Lalu mengapa kalian tetap tidak terima dengan apa yang kalian dapat. Apakah selama aku mengajar kalian selalu antusias untuk memperhatikan dan menanyakan hal yang kalian tidak tahu? Kapan kalian berpikir bahwa aku disini tidak hanya memikirkan diriku sendiri, namun juga aku memikirkan kalian, berapa biaya yang kalian keluarkan, bagaimana orang tua kalian mencari biaya tersebut. Sungguh aku memikirkan itu semua, maka itu berhentilah menuduhku akan semua tuduhan yang memberatkanku atas hasil-hasil yang kalian terima.

Wahai anak-anakku bukankah kita tidak akan pernah ada status mantan hingga kapanpun? Yah karena hingga kapanpun kalian tetap muridku. Namun terserah bagaimana kalian akan menganggapku di masa depan. Pernahkah kalian berfikir setelah kalian menulis sesuatu tentangku di twitter kalian, atau setidaknya me-retweet semua twitter yang menjelekanku? Apakah semua itu membuat kalian bangga? Ataukah membuat kalian merasa lebih gaul dibandingkan mahasiwa atau pelajar-pelajar lain? Mengapa kalian melakukan itu semua.

Wahai anak-anaku ini semua bukanlah keluhanku, namun aku hanya ingin memberitahu bahwa disini bukan hanya kalian yang berjuang. Namun kita berjuang bersama, yang tentunya untuk bangsa ini. Bayangkan ketika kalian berhasil, siapakah orang pertama setelah ayah ibumu yang ikut bangga akan keberhasilanku? Tentunya aku, orang yang sering kalian bicarakan kejelekannya. Dikantin, di mall atau dimanapun ketika kalian berkumpul dengan teman-teman kalian. Orang yang selalu kalian katakana galak dan sulit untuk memberi nilai A. Orang yang selalu kalian jarang perhatikan ketika member materi dikelas. Sungguh aku adalah orang yang pertama akan bangga akan semua prestasimu dimasa mendatang setelah kedua orang tuamu.


Wahai anak-anakku maafkanlah aku jika aku tidak meluluskanmu dalam mata kuliahku. Maafkan aku jika memberi nilai yang tidak sesuai, maafkan aku atas semua perilaku yang kutunjukan dikelas maupun diluar kelas. Itu semua aku lakukan bukan untuk diriku sendiri, namun itu semua untuk kalian. Ingat bukan hanya kalian yang berjuang disini, namun kita berjuang bersama. Maka itu bantulah aku untuk sama-sama berjuang. Setidaknya hanya dengan memperhatikanku dikelas, dan mencoba berpikir sebelum melakukan sesuatu. Aku adalah orang tuamu dikampus, lalu hargailah aku sebagaimana orang tuamu. Sungguh akupun menganggapmu seperti anakku, jika tidak untuk apa semua yang ku lakukan dari awal semester hingga akhir.

Asing

Aku tersesat entah dimana, disini tempat yang sangat asing bagiku dan tak pernah aku lihat ataupun datangi sebelumnya. Aku tak tahu dimana aku berada, begitu gelap sehingga tanganku pun tak mampu untuk aku melihatnya. Tak ada lagi kebisingan yang seperti biasa aku dengar ataupun canda tawa yang selalu membuatku merasa terang. semua hilang bagai tak bersisa sedikitpun untuk aku ketahui apa yang terjadi, bahkan seperti tak pernah diciptakan sebelumnya.

Tak tahu harus bertanya pada siapa, dan entah ada siapa yang akan ku temui. Intinya semua ini begitu asing bagiku, sangat asing. Disini, ditempat ini, dalam gelap yang tak sedikitpun cahaya masuk, aku mulai bertanya apakah ini semua memang asing atau aku yang mengasingkan diriku dari cahaya dan keramaian sehingga hanya gelaplah yang mampu aku rasakan. Mata ini yang biasanya selalu , melihat sisi bising dalam hidup, kini seakan buta dan hanya kegelapan yang ada.

Tempat yang hitam dan sangat pekat bahkan membuat sesak sekujur tubuh ini. Ingin melawan namun tak mampu, ingin keluar namun tak tahu bagaimana caranya. Aku terus berjalan, menyusuri jalan yang tanpa tepi dan tak terlihat apa saja yang disekitarnya. Tubuhku yang kuat seolah melemah, keberanianku yang selalu ada entah pergi kemana. Siapapun selamatkanlah aku, bawalah cahayamu untuk menerangi ini semua. aku akan menunggu siapapun datang kesini dengan cahayanya dan membawaku pergi bersamanya.

Kamis, 30 Januari 2014

Terimakasih Bagas

Bagian I

Namaku Dinda, lengkapnya Dinda Arini Putri, umurku 19 tahun, aku tinggal didaerah Bandung tepatnya didaerah kawasan sarijadi. Disini aku tinggal bersama ibu dan juga kakak perempuanku yang bernama Anissa atau aku sering memanggilnya ica, ia 2 tahun lebih tua dariku. Kami tinggal bertiga karena ayahku adalah seorang kontraktor yang sering kerja untuk bolak-balik ke luar kota. Disini, dihari ini tepatnya hari jumat tanggal 16 Januari 2009. Aku hampir lupa, aku adalah murid kelas X atau biasa disebut kelas 1 SMA. Yah sekarang, malam ini tepatnya aku ingin bercerita tentang seorang pria yang baru saja ku sore kemarin. Namanya adalah Bagas, lengkapnya adalah Bagas Perdana. Hari itu bisa dibilang sebagai hari terindah yang pernah ada dalam hidupku karena aku telah menemukan semua jawaban dalam harapan-harapanku. Sore itu ketika aku baru saja pulang sekolah, terlihat dari kejauhan pria berseragam putih abu yang berlari mendekati ku.

Bagas : hai, km dinda yah?
Dinda : iah, km siapa yah?
Bagas : oia aku bagas, aku murid kelas X 3. Boleh aku berkenalan?
Dinda : oh boleh namaku dinda, murid dari kelas X 5
Bagas : terimakasih kalo begitu, salam kenal dinda. Aku langsung yah, sampai bertemu
Dinda : oh iah sama-sama. Oke

Siang itu dengan perasaan sangat aneh bercampur aduk, aku terus bertanya dalam hati. Siapakah pria ini, berani sekali tiba-tiba datang lalu mengajak berkenalan. Namun tidak dapat juga bahwa perasaan aneh tersebut terdapat sedikitnya perasaan senang karena pria ini merupakan pria yang begitu dibicarakan oleh hampir wanita satu sekolahku, mulai dari kelas X, XI, hingga XII membicarakannya bukan hanya karena ketampanannya namun juga karena kehebatannya bermain gitar dalam bandnya. Yah namun  walaupun begitu aku tidak ingin cepat ambil keputusan dulu tentang bagaimana perasaanku karena sebagaimapun dia disekolahku, tetap saja dia hanyalah pria yang baru saja ku kenal. Tidak lama dari itu, seperti biasa aku mendatangi teman-teman satu kelasku yang juga sering bermain denganku. Mereka adalah Shinta, Marsya, dan Dinar. Mereka adalah teman baikku, dapat dikatakan mereka adalah sahabatku di sekolah bahkan diluar sekolah. Mereka adalah tempatku berbagi semua, termasuk cerita tentang apa yang baru saja ku alami. Ketika itu tepatnya kami sedang diam seperti biasa di warung gaul (warung didaerah dekat sekolah) yang biasa dijadikan tempat kami berkumpul sepulang sekolah untuk dihabiskan dengan mengobrol bersama-sama.

Dinar : din, kemana dulu tadi. Kok baru kesini?
Dinda : iah tadi ada urusan dulu nay(panggilan untuk dinar) sorry
Marhsa : yaudah sekarang mau kemana kita?
Shinta : eh..eh..eh tunggu dulu, tadi kayanya aku liat ada yg kenalan sama bagas deh
Marsha : bagas ? anak X 3 itu?
Shinta : iah bagas cowo paling eksis disekolah kita
Dinda : eh..eh.. Cuma kenalan doang kok yah sebagai sama-sama anak satu sekolah
Marsha : hati-hati loh din, saingan km banyak loh
Shinta : yaudah sih biarin aja sya(panggilan untuk marsha) kalo emang bagas sukanya sama dinda yah mau apa yang lain juga kan?
Dinar : aduh aduh dinda udah ada yang ngeceng aja nih hahaha
Shinta, marsha, dan dinar bersama-sama menertawakanku seperti sedikit mengejek tentang hal yang kualami tadi.

Tidak lama dari itu kami berempat memutuskan untuk pergi ke toko buku yang tempatnya ada di jalan merdeka depan BIP ( Bandung Indah Plaza) untuk mencari cari buku pelajaran dan tidak ketinggalan juga buku bacaan seperti novel, yah karena kami berempat sangat suka membaca novel. Sampai hampir petang tiba kita memutuskan untuk pulang karena takut terlalu larut dan akan dimarahi oleh ibu kita masing-masing. Dan ditengah perjalanan ketika sedang berjalan keluar dari toko buku, tiba-tiba kami bertemu dengan bagas yang terlihat keluar dari tempat bermain billiard yang tidak jauh dari toko buku. Dengan perasaan malu kepada Marsha, Shinta, dan Dinar seketika aku lalu menyuruh kepada mereka untuk berjalan lagi lebih cepat karena takut Bagas menghampiri ku dan aku habis diejek oleh ketiga gadis itu lagi. Dan kamu tahu apa yang terjadi, yah seperti yang kukira Bagas menghampiriku lalu menyapaku dan teman-temanku.

Bagas : hai dinda, ketemu lagi. Hai teman-teman dinda
Marsha : hai Bagas, aku Marsha
Tak ketinggalan Dinar dan Shinta pun memperkenalkan diri mereka, lalu dengan wajah memerah karena malu. Bukan malu karena Bagas menghampiriku, namun karena tak tahu apa yang akan teman-temanku katakana soal ini.
Dinda : hai Bagas, oia kami duluan yah udah sore mau pulang nanti takut dicariin
Bagas : oh begitu yah, gimana kalo kalian aku antar saja?

Tanpa persetujuanku tiba-tiba Shinta, Marsha, dan Dinar menyetujui untuk pulang bersama Bagas. Dan tanpa bisa menolak juga akupun akhirnya ikut pulang bersamanya. Ditengah perjalanan, didalam mobil bagas, kami berlima berbicara tentang sekolah, tentang guru, anak-anak nakal yang ada disekolah dan lain-lain. Setelah mengantarkan Marsha, Shinta, dan Dinar. Hanya tersisa aku dan Bagas saja, karena rumahku dengan teman-temanku tidak dekat. Lalu dalam mobil pun karena aku masih merasa malu, aku berusaha membuang malu itu dengan bernyanyi lagu favoritku yaitu lagu Ten 2 Five-Love is you. Dengan seketika

Bagas mengajak ku berbicara tentang lagu tersebut.
Bagas : suka ten 2 five juga dinda?
Dinda : oh suka banget he..he..he kenapa emang?
Bagas : wah kalo gitu sama dong aku juga suka banget
Dinda : oia? Suka lagu yang mana?
Bagas : semuanya, bahkan aku punya koleksi mulai dari poster, baju, hingga semua album ten 2 five mulai dari koleksi cd hingga kaset tape. Tapi aku paling suka lagu Love is you

Aku tak bereaksi apa-apa setelah Bagas mengatakan itu semua, aku hanya menjawab seperlunya dengan jawaban oh saja. Lalu tidak lama dari itu Bagas memutarkan lagu kesukaanku itu dalam tape yang ada dimobilnya. Seketika suasana begitu hangat, entah karena aku sedang bersama pria yang sangat terkenal disekolahku, atau karena lagu yang aku suka itu.
Tidak lama kemudian aku sampai dirumah, dan tidak lama juga aku sesegera mungkin turun dari mobilnya, lalu mengatakan terimakasih karena takut dikatakan tidak sopan setelah diantar langsung pergi begitu saja. Dan lalu Bagas memanggilku kembali.

Bagas : dinda, tunggu
Aku berbalik dan berbicara lagi kepadanya
Dinda : eh.. kenapa bagas, ada yang ketinggalan atau yang lupa yah?
Bagas : iah, aku dinda aku lupa menanyakan nomer hp mu, hehehe. Boleh aku memintanya?
Dinda : untuk apa?
Bagas : yah untuk menghubungi mu dong, boleh?
Dinda : kan bisa ketemu disekolah
Bagas : yah itupun kalo boleh, jika tidak yah aku akan meminta kepada temanmu hehe becanda
Dinda : oh gitu yaudah nih (member tahukan nomer hp ku)
Bagas : terimakasih Dinda
Dinda : iah sama-sama Bagas, aku masuk dulu yah, oia apa mau masuk dulu ? soalnya tidak enak sudah petang dan takut ibuku mencariku
Bagas : tidak perlu, aku langsung saja. Salam saja buat mamahmu dan sampai bertemu disekolah
Dinda : oke kalo begitu, duluan yah bye

Dengan bergegas aku masuk kerumah karena takut ibu marah padaku karena itu sudah jam 6 lebih dan aku pulang terlalu larut. Benar tadi itu adalah hal yang paling tidak terduga olehku, perasaan malu ku hampir saja membuat aku menjadi orang yang tidak sopan dengan hampir lupa mengajak seseorang yang baik mengantarku sampai kerumah tidak kutawarkan untuk masuk. Tapi coba saja bayangkan jika kalian menjadi aku waktu itu, mungkin kalian akan merasakan hal yang sama. Ah entah aku berlebihan tapi biarlah karena aku yang merasakannya bukan km ataupun kalian.
Sesampainya dirumah ketika aku membuka pintu, dengan wajahnya yang sedikit cemas Ibu berdiri didepan pintu menunggu kedatanganku pulang. Maklum aku dan kakaku tidak pernah pulang kerumah diatas jam 5 sore karena itu memang sudah peraturan dari orang tuaku. Memang sedikit berlebihan tapi aku yakin itu semua demi kebaikan aku dan kakak karena orang tuaku khawatir terjadi apa-apa dengan kami. Yah aku wajarkan karena akupun tidak ingin menjadi anak yang tidak menurut. Dengan sedikit wajah cemasnya ibu menyapaku.

Ibu : dari mana saja Dinda kok baru pulang jam segini
Dinda : iyah maaf ibu, tadi aku sama temen-temen seperti biasa mampir dulu ketempat buku
Ibu : oh yasudah jangan diulangi lagi yah, ibu khawatir kalau sampai km dan kakakmu pulang terlalu larut karena diluar sana banyak orang jahat.
Dinda : iah ibu maaf yah
Ibu : yasudah masuk kekamarmu dan ganti bajumu yah.
Dinda : iah ibu
Ibu : eh tunggu dulu, tadi siapa yang mengantarmu, ibu sepertinya belum pernah melihatnya yah?
Dinda : oh, itu Bagas teman sekolah Dinda bu.
Ibu : oh begitu, yasudah sekarang ganti bajumu.

Lalu aku meninggalkan ibu dan bergegas untuk kekamarku untuk mengganti baju sekolah dengan baju tidurku. Sesudah mengganti baju, aku kembali keruang keluarga untuk berkumpul dan berbagi cerita tentang bagaimana hari ini dengan ibu dan ica yang sudah lebih dulu ada di ruang keluarga sambil menonton tv. Tak lama kemudian ibu menyuruh kami berdua untuk makan bersama, makan malam sederhana namun selalu terasa nikmat karena dilakukan bersama kedua orang yang aku sayangi. Yah walaupun setiap hari namun inilah saat-saat yang selalu kami tunggu, yah makan dan berkumpul bersama untuk menghilangkan lelah karena rutinitas kami setiap harinya. Hidangannya pun tidak terlalu istimewa hanya sayur bayam dan ayam goreng saja, namun jika ibu yang memasaknya serta memakannya bersama ibu dan kakaku, aku rasa itu adalah makanan ter enak dan termewah didunia karena diringi rasa sayang akan hangatnya keluarga kami. Dan tak lama setelah makan aku kembali kekamarku untuk membaca-baca kembali materi pelajaran yang telah dipelajari di sekolah, sambil diam dan hanya melihati buku aku kembali teringat tentang Bagas dan semua yang kulakukan hari ini bersamanya.
Walaupun hanya berbicara sebentar ketika berkenalan dengannya, dan saat dia mengantarkanku pulang dari toko buku namun aku yakin ini tidak seperti perkenalan biasanya yang pernah ku alami. Tapi ku pikir, untuk apa aku memikirkannya, pria yang belum begitu ku kenal dan yah setiap wanita disekolah juga pasti memikirkannya. Jadi tak perlulah aku memikirkannya. Dan malam itu telah kuputuskan untuk tidur karena aku tak ingin terus menerus merasa aneh seperti itu.
Hari ini hari sabtu tanggal 17 Januari 2009 tepat jam 10 pagi, aku baru saja terbangun dari tidurku semalam, dengan wajah masih mengantuk dan mengenakan pakaian tidurku, aku diam sejenak dikasurku untuk melamun sejenak. Yah itulah hal yang sering ku lakukan ketika aku bangun tidur. Yah tak lama kemudian aku langsung menuju kamar mandi untuk mencuci mukaku. Oia aku lupa memberi tahu bahwa hari sabtu sekolahku libur. Yah dan kebiasaan yang sering aku dan keluargaku lakukan saat libur adalah berbelanja bersama ke pasar untuk membeli bahan masakan. Setelah itu tidak ada kegiatan yang istimewa pada hari ini. Karena pada saat malam pun aku jarang keluar rumah untuk main bersama teman-temanku, yah kamu tau sendiri mengapa alasannya.
Hari minggu, seperti biasa aku bangun jam 10 pagi dan dengan kegiatan yang sering ku lakukan ketika bangun, namun berbeda karena aku mulai bersiap-siap untuk pergi karena ada janji dengan ketiga sahabatku untuk menonton film di bioskop. Yah dan setelah mandi aku lalu bergegas untuk pergi karena sahabtku sudah menungguku.

Ibu : kemana din jam segini udah pergi?
Dinda : mau main bu sama Shinta, Marsha, dan Dinar
Ibu : mau main kemana? Awas pulangnya jangan terlalu larut
Dinda : nonton bu, iah ibu siap
Ibu : yasudah kalo begitu hati-hati
Dinda : oke bu, oia lupa minta uang hehehe
Ibu : ah dasar kalo urusan uang saja kamu tidak pernah lupa
Dinda : makasih bu dadah

Setelah sampai dibioskop tempat kami menonton, seperti biasa kami mengobrol layaknya seorang wanita seusia kami pada umumnya. Dan tak lama menunggupun akhirnya kami menonton karena tiketnya sudah dibelikan oleh Dinar yang datang terlebih dahulu. Setelah usai menonton, kami lanjut untuk makan sebelum pulang, tidak jauh di kantin yang ada di mall tempat kami menonton.
Dan ketika kami sedang makan, tibalah pacar dari sahabat-sahabatku, namun hanya aku yang tidak punya pacar. Yah aku sudah biasa karena memang aku sering menjadi obat nyamuk ketika mereka bersama pacarnya. Merasa sepi ditengah keramaian, namun apa boleh buat. Setidaknya aku senang bahwa sahabatku memiliki pasangan. Yah walaupun aku tidak punya.
Tidak lama setelah makan, kami memutuskan untuk pulang. Marsha dan Dinar pamit untuk pulang berpisah dengan aku Shinta dan pacarnya. Yah Shinta mengantarkanku pulang karena rumah Shinta lah yang paling dekat denganku diantara dua sahabatku yang lain. Sesampainya dirumah aku langsung bergegas masuk kerumah. Dan ketika sampai dirumah kak Ica langsung menyapaku.

Ica : hey din dari mana?
Dinda : habis nonton kak kenapa?
Ica : oh gak apa-apa, cuma nanya aja kok
Dinda :  oh gitu, yaudah dinda langsung kekamar yah kak.
Ica : oke

Akupun bergegas untuk masuk kekamar walaupun tak tahu apa yang akan aku kerjakan di kamar. Yah hanya diam, mengisi sedikit sisa pekerjaan rumahku dan tentunya mendengarkan lagu kesukaanku. Sampai akhirnya aku tidur dan haripun tanpa terasa mulai beranjak dan berganti.
Hari ini aku kesiangan untuk pergi kesekolah, dan aku dengan malu aku dihukum karena tidak mengikuti upacara bendera. Seperti biasanya murid-murid yang dihukum karena terlambat dikumpulkan didepan gerbang untuk menunggu hingga upacara selesai dan selanjutnya akan dihukum menghormat bendera selama lima belas menit sebelum memasuki kelas. Dan kamu tahu apa yang membuatku lebih merasa malu hari itu? Yah Bagas melihatku lalu tersenyum kepadaku yang sedang menghormat bendera. Namun aku tidak membalas senyumnya bukan karena aku sombong atau marah kepadanya, namun karena aku malu semalu-malunya. Entah bagaimana yang dapat kugambarkan namun intinya semua gambaran tidak dapat mendeskripsikan rasa malu ku saat itu.
Setelah hukuman selesai aku bergegas untuk masuk kelas, dan ketika dikelas aku mendapatkan sms entah dari siapa. Dan kamu tahu ketika aku buka apa isinya dengan nomer tanpa nama dan tidak kukenal.

"Hey Dinda, km terlihat lucu ketika sedang menghormat bendera. He..he..he jangan marah yah, tapi wajahmu terlihat sangat merah saat kepanasan tadi."

Masih dengan perasaan yang bingung karena tidak tahu dari siapa sms itu, aku terus diam dan memikirkan siapakah orang yang lancang mengirimkan sms kepadaku seperti itu. Ah sudahlah tidak perlu kupikirkan karena jika aku tahu, aku akan marah kepada orang itu. Yah setelah 3 jam belajar dikelas, akhirnya saat yang ditunggu oleh semua siswa. Yah bel istirahat berbunyi. Dan seperti biasa aku dan sahabatku lalu kekantin untuk makan bersama dan mengobrol pastinya. Namun dikantin tiba-tiba Bagas menghampiri kami.

Bagas : hey kalian boleh aku ikut gabung duduk disini
Serentak Shinta, Marsha, dan Dinar menjawab boleh..
Bagas : apa boleh aku duduk disini Dinda?
Dinda : yah boleh silahkan

Lalu Bagas duduk disebelahku, yah jika kamu tahu saat itu aku masih merasa malu karena kejadian pagi itu saat bagas melihatku dan tersenyum. Kami berlima akhirnya makan dan mengobrol dengan sangat gembira. Membicarakan apapun seolah kantin itu hanyalah milik kami berlima tanpa memperdulikan orang lain. Setelah beres makan kami akhirnya kembali lagi ke kelas untuk melanjutkan pelajaran berikutnya. Shinta, Dinar, dan Marsha berjalan duluan meninggalkan aku dan Bagas. Seolah mereka sengaja ingin aku berdua dengan Bagas. Diperjalanan menuju kelas bagas memberi tahuku sesuatu.

Bagas : dinda tadi sampai tidak sms ku?
Dinda : hah? Sms yang mana?
Bagas : oh mungkin engga sampai, gak bukan sms apa-apa kok hehehe.
Dinda : oh iah mungkin ga kekirim
Bagas : iah, eh udah didepan kelasmu nih. Aku lanjut kekelasku yah dinda
Dinda : iah bagas dadah
Bagas : dadah sampai bertemu lagi dinda

Sempat aku berpikir bahwa sms pagi tadi adalah sms dari Bagas, namun aku tak mau menanyakannya karena mungkin memang tidak terkirim sms darinya. Namun masih seperti pagi tadi, aku hanya diam dikelas dan memikirkan siapakah orang yang telah memberiku sms seperti itu. Yah tapi aku berpikir bagaimana jika pulang nanti aku bertanya lagi kepada Bagas mengenai sms yang aku terima apakah merupakan sms darinya atau bukan. Yah aku tak mau pusing lagi aku tunggu saja hingga pulang  nanti.
(bel pulang sekolah bordering) yah aku lalu bergegas keluar kelas meninggalkan sahabatku untuk mencari Bagas. Namun aku tidak menemukannya, mungkin ia sudah pulang lebih dulu dari aku. Pikirku berkata untuk apa aku mencarinya, buang-buang tenaga saja, dan kalo memang Bagas yang mengirim sms tadi itu, mungkin suatu saat dia akan bilang kepadaku. Namun biarlah tunggu saja siapa yang mengirimnya, jika tahu nanti aku akan langsung memarahinya.
Seperti biasa aku dan sahabatku berkumpul dulu di warung gaul. Namun setelah aku tiba di warung gaul, kamu tahu apa yang kutemui? Yah Bagas ada disana bersama 2 teman prianya yaitu Dika dan Roni. Dan bagas menyapaku, lalu dia menawariku untuk mengantarku pulang. Aku memutuskan untuk tidak menerima tawarannya namun Marsha dan Dinar seolah memaksaku untuk menerima tawaran dari Bagas. Oh tidak mereka berdua membuatku mati kutu, karena jika aku menolak tawarannya saat itu mungkin Bagas akan merasa malu depan teman-temanku dan juga teman-temannya. Akhirnya tidak lama diam diwarung gaul aku dan Bagas pulang, sekali lagi bukan karena aku yang ingin menerima tawarannya namun karena aku merasa tidak enak dan tentunya karena teman-temanku yang mengatakan iah seolah memaksaku untuk pulang bersama Bagas.
Ditengah perjalanan Bagas memutar lagi lagu kesukaanku dan memberikanku kaset dari band tersebut.

Dinda : ini serius buat aku bagas ? tidak perlu, aku malu menerimanya
Bagas : iah ambil aja dinda, kamu suka kan?
Dinda : terus kamu? Bukankah kamu juga suka dan mengoleksi
Bagas : iah, tapi gak apa-apa itu buat kamu aja. Aku masih punya CD nya kok
Dinda : serius bagas?
Bagas : iah
Dinda : yaudah deh makasih yah bagas
Bagas : iah dinda sama-sama dengerin yah

Perasaanku saat itu sangat campur aduk, senang, malu, dan tak tahu lagi seperti apa. Intinya aku sendiri tidak dapat menggambarkannya. Namun jangan salah sangka dulu, aku senang bukan karena Bagas memberiku sesuatu. Namun karena yang diberikannya adalah kaset band kesukaanku. Tak lama kemudian aku sampai dirumahku.

Dinda : makasih bagas udah nganterin dan ngasih kaset juga
Bagas : sama-sama dinda he..he
Dinda : oia bagas mau mampir dulu
Bagas : tidak perlu aku langsung saja, aku udah ada janji mau latihan band
Dinda : oh gitu yaudah deh aku masuk yah
Bagas : iah dinda dadah

Ketika masuk dirumah aku melihat suasana hening dalam rumah seperti tidak ada siapa-siapa. Yah betul ternya ibu dan kakakku sedang pergi entah kemana, mungkin kerumah tante monic. Tetanggaku yang rumahnya berada sekitar tujuh rumah dari rumahku. Beliau teman ibuku, mereka sudah berteman dari sebelum aku lahir. Dan tentunya keluargaku sering sekali kerumahnya, dan juga beliau sering kerumahku untuk berkunjung juga.
Aku langsung kekamarku untuk menaruh tas. Dan tiba-tiba ada sms dari orang yang nomernya  tak kukenal itu. Smsnya adalah

"Hey, jangan lupa dengerin yah lagu dari kasetnya dinda hehehe"

Dan ternyata benar, orang itu adalah Bagas. Orang yang mengirimku sms tadi pagi, seketika perasaan ingin marahku menjadi hilang tak tahu kemana dan entah mengapa, aku tahu. Apa kamu tahu mengapa aku tidak jadi untuk marah? Sungguh entah mungkin karena dia memberiku kaset. Tapi aku bukanlah orang seperti itu yang tiba-tiba dapat menghilangkan rasa marah karena orang memberiku hadiah, kecuali pada ibu, ayah dan kakakku saja aku mudah untuk memaafkan orang. Namun yah ini pertama kali aku dapat memaafkan, bukan memaafkan mungkin tepatnya menghilangkan rasa ingin marahku. Ah sudahlah aku bingung untuk menceritakan ini. Akupun membalas smsnya.

"Oh ini nomer km bagas? Iah makasih yah aku seneng dapet kaset itu he..he..he"

Bagas pun tidak membalas lagi smsku, entah sesungguhnya apa yang diinginkan orang ini aku tak tahu. Namun sepertinya dia tahu bahwa aku sangat marah dengan sms-nya tadi pagi, dan kini hilang marahku. Ah apakah dia ini adalah seorang peramal, atau memiliki indera ke-enam sehingga dapat membaca keadaanku? Mungkin aku berlebihan, namun perasaanku bahwa Bagas seperti orang yang sudah lama aku kenal nampaknya tidak salah karena mungkin dia seperti tau kehidupanku dan apa yang aku rasakan tanpa member tahunya.

Selasa, 28 Januari 2014

Ikhlas? yah itulah jawabannya

Jika kehilangan bahagiaku adalah cara untuk menciptakan bahagiamu, aku rela. Setidaknya tujuanku bersamamu adalah untuk menciptakan senyuman itu bukan. Yah bukan berarti tanpa janji, setidaknya kamu harus berjanji agar senyuman itu akan selalu ada, bukan pula aku memperhitungkan tentang apa yang telah aku berikan, namun janganlah buat usahaku menjadi sia-sia dan tidak bermakna jika suatu saat air mata itu akan kembali menghapus senyuman itu.

Bayangkan dahulu ketika aku datang dan menawarkan semua kebahagiaan yang setidaknya membuatku berusaha untuk melakukan segala cara agar terlaksana. Namun setelah lama aku disampingmu, senyuman itu berubah menjadi kebencianmu akan sikapku yang telah berubah, menurutmau apa itu adil jika keinginanku untuk bersama denganmu aku tukar dengan kepergianmu demi senyuman itu lagi. Yah entah mengapa aku selalu beranggapan bahwa semua tidak akan ada yang benar-benar bisa terjadi. Namun setidaknya dengan kehilangan ini aku berharap itu usaha terakhir yang mampu aku lakukan.

Tak perlu mencari lagi alasan untuk pergi, karena aku sudah sepakat dengan diriku di malam itu agar sudahlah kurelakan saja ini semua demi senyuman itu. Yah tentunya kebahagiaanku. Dahulu menggenggam tanganmu terasa begitu lembut dan hangat untuk dengan sederhana membuat kebahagiaan, namun kini membayangkannya saja aku takut karena itu semua membuat air matamu datang dalam mimpiku. Aku sepakat jika pergimu merupakan bahagia aku akan lakukan, namun aku belum sepakat jika suatu saat kita bertemu lagi aku tidak akan menggenggam tanganmu.

Jika cinta itu adalah ketulusanku untuk merelakanmu, aku sedang cinta karena itu yang sedang aku lakukan. Namun jika suatu saat kau meminta ku kembali dengan alasan kamu tidak mampu tersenyum tanpaku ternyata, aku mungkin tidak akan kembali karena aku tak mau lagi melihat begitu banyak air mata karenaku. Suatu saat rindumu akan selalu ada mungkin, namun bukan untukku. Bahkan ketika kau menemukan kehangatan lain dalam jemari seseorang, aku akan tetap tersenyum walaupun itu bukan jemariku. Karena aku telah menitipkanmu lewat siapa saja yang mampu membuatmu tersenyum. Yah cinta aku akan selalu ada dalam hati seseorang untuk menjaga senyuman itu.

Kita tidak sedang belajar matematika saat ini, bukan juga fisika yang membutuhkan hitung-hitungan untuk mencapai hasil dengan logis. Bukan juga ilmu sosial lain yang memerlukan teori untuk dapat memecahkan masalahnya. Ini semua hanyalah suatu pengorbanan yang tak pernah secara logis ataupun teoritis dapat digambarkan. Ini semua hanyalah bentuk tindakan dimana senyuman menjadi satu-satunya jawaban tanpa hitung-hitungan ataupun teori. Yah keikhlasan itulah ilmunya, yang selalu diajarkan oleh instansi kehidupan. Tentunya ijasahnya adalah hati.

Senin, 27 Januari 2014

hallo pelukis hari

Setelah sekian lama, akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada seorang wanita. Belum begitu aku kenal namun setidaknya mampu membuatku lupa akan duniaku yang hitam-putih menjadi sedikit warna warni karena kehadirannya. Wanita yang sudah lama aku lihat namun baru-baru ini aku mengenalinya. Walaupun belum begitu mengenalinya, dan dia belum begitu mengenali aku. Setidaknya dia tahu bagaimana memperlakukan hariku menjadi istimewa.

Seketika aku sering untuk selalu ingin menghubunginya, bahkan dalam malamku yang hening, tak terlewatkan untuk sedikit memikirkannya sebelum aku terjaga dalam tidurku. Tak perlu ku sebut namanya, tak perlu juga kalian tahu karena aku aku takut kalian merasakan apa yang kurasa juga sehingga aku takut kalian merebut ia dari hariku yang akan datang nanti.

Sebelumnya aku masih bingung untuk berfikir kepada siapakah aku akan mulai menjatuhkan pilihan ini, namun tanpa pernah aku sadari dan tanpa pernah aku maksudkan tiba-tiba saja aku merasa bahwa hatiku telah memilihnya sendiri. Aku belum pernah tersenyum kepadanya, menggenggam tangannya ataupun yang lainnya. Namun entah mengapa dia seperti telah lama aku kenal dan menjadi orang yang aku cari selama ini karena telah hilang dalam masa laluku.
Biarkan lah dulu ini semua menjadi teka-teki apakah akan tetap dia yang mampu mewarnai hariku dengan tanpa warna biru. Ataukah masih ada orang lain yang akan membuatku memilih lagi nantinya. Aku tak mau berspekulasi soal ini, karena aku kini aku hanya ingin menikmati saja warna-warna indah yang telah ia ciptakan.

Kini aku hanya ingin terus menghubunginya, karena aku tak tahu hingga kapan aku akan berhenti mencoba untuk menghubunginya, yah aku hanya ingin menjadi yang terbaik untuk hariku saat ini. Tak perlu berharap kapan, esok, ataupun seterusnya, namun hari ini dahulu aku akan mencoba untuk membantunya mewarnai hari-hari ku. Yah ini hanyalah apa yang inign aku tuliskan, bukan berarti ini adalah yang aku maksud. Namun bukan salah kalian pula jika ini semua membuat kalian berpikir bahwa adalah yang aku maksud.

Jika kalian menjadi diriku apakah kalian akan mengajaknya untuk bertemu secara langsung denganku? Yang pasti dia cantik, baik, dan sempurna, itulah yang orang lain katakana kepada ku. Apapun yang kalian katakan, mungkin aku agak sedikit berlebihan soal ini, namun apalah pedulinya karena aku yang merasakan. Jika kalian berpikir aku harus mengajaknya secara langsung, mungkin itu tidak salah, percayalah itu yang ingin ku lakukan namun aku adalah tipe orang yang tak pernah berani untuk begitu saja menatap wajah seseorang yang berbeda dihadapanku.


Ini semua untuk pelukis hari yang paling hebat yang kini ada didalam hidupku, oh mungkin belum namun usahaku adalah suatu saat aku akan membuatnya melukis dihadapanku langsung.

Tulisan Tanpa Arah

Jika cinta adalah sebuah kebingungan, berarti aku sedang jatuh cinta. Jika cinta adalah sebuah kebahagiaan berarti aku sedang jatuh cinta. Jika cinta itu juga soal kegelisahan berarti aku sedang jatuh cinta. Jika ada yang lebih mampu mendefinisikannya lebih baik dari apa yang aku definisikan tadi biarlah, tak perlu kalian beri tahu padaku.

Karena aku hanya sedang mencoba mendefinisikan cinta semauku. Yah bukan soal perasaan namun tentang jiwa kosong inilah yang aku rasakan, bingung, bahagia, gelisah, itu semua yang sedang aku rasakan. Walaupun definisi itu berbeda2 namun itu semua memiliki kesamaan yaitu aku tak tahu berasal dari siapa. Mungkin karena aku terlalu sibuk mencintai diriku sendiri saat ini sehingga aku tak mampu melihat siapa orang yang datang perlahan dengan mengetuk pintu ini begitu lembut.

Aku yakin dia adalah orangnya, marilah kita berspekulasi sedikit tentang apa cinta itu, aku tak meminta kalian untuk mengkritisi spekulasi ku ini, yah karena ini bukan yang kalian rasakan. Jadi baca saja tak perlu berspekulasi. Aku rasa cinta itu memang suatu kebahagiaan, mengapa? Karena ketika aku jatuh cinta kepada seseorang, lalu aku bertemu orang tersebut seketika semuanya bercampur aduk, yah deg2an, senyum sendiri, tak mampu menyapa dan intinya begitu senang walaupun melihatnya saja.

Namun ketika cinta itu terplokamirkan, bahagianya pun tidak selalu ada. Yah yang pada awalnya itu semua kebahagiaan, lalu timbul sedikit masalah akan menjadi amarah antara kedua belah pihak. Ketika cemburu mulai menguasai semua, itupun mulai jadi penghambat kebahagiaan walaupun katanya cemburu itu adalah bagian dari cinta.

Bayangkan ketika rasa rindu dikalahkan oleh cemburu, apakah akan tetap senang tidak dapat mengekspresikannya? Aku yakin tidak. Lalu apa solusinya, apakah dengan menghilangkan cemburu? Tentu saja tidak bisa karena itu semua datang satu paket dengan cinta. Jadi jika dilihat lagi cinta itu apa? Apakah benar jika cinta itu adalah gabungan dari semua perasaan? Ada senang, sedih, bingung, marah, gelisah, dan lainnya.


Yah mungkin itu definisi yang paling tepat untuk saat ini. Jadi jika kita mencintai berarti kita harus siap menggabungkan perasaan kita menjadi satu. Tentang seseorang yang aku cintai, aku yakin ada. Yah karena kini ketika aku merasakan bahwa aku cinta kepadanya, perasaanku jadi campur aduk, kadang aku senang, bingung, dan lain-lain. Tulisanku mungkin tidak tahu tentang apa karena aku hanya suka menulis, jadi jangan larang aku menulis. Malam ini cukup sampai disini dulu, ini semua belum selesai, jadi suatu saat mari kita bahas lagi lebih rinci.