Ibu, aku tak punya apa-apa untuk diberikan pada harimu. Ya hari yang selalu diperingati setiap tahun pada tanggal 22 Desember sebagai hari mu. Hari Ibu. Ingatkah ketika dulu kau melahirkan ku dan pertama kali aku memanggilmu ibu? Aku yakin kau masih mengingat semuanya, aku yang menulis ini semua tidak pernah mengingatnya. Haha betapa bodohnya aku.
Namun aku ingat sampai detik ini kau selalu mengeluarkan keringatmu untukku, anakmu yang terkadang bahkan sering mengecewakanmu. Aku bukan apa-apa tanpamu, bahkan tak pernah ada jika tanpamu, namun engkau akan selalu ada walaupun tanpaku. Yang aku ingat adalah kuatnya dirimu menahan rasa sakit untuk tiga hari tiga malam saat mencoba menolongku untuk keluar ke dunia ini. Bukankah kau pikir rasa sakit itu tidak akan pernah ada lagi? Aku tahu kau rasa bahwa kau salah berpikir karena rasa sakit karena aku telah beranjak dewasa sering kau alami, bahkan lebih dibanding saat pertama aku terlahir. Ibu jika ada kata yang lebih indah selain maaf untuk saat ini, aku ingin mengatakannya, atau jika ada hal terbaik selain terimakasih yang mampu aku lakukan, aku akan melakukannya. Maaf karena terlalu sering membuatmu sulit selama ini, dan terimakasih untuk selalu mendoakanku walaupun terlalu banyak luka karena ku. Aku berjanji akan menjadi anak yang akan kau banggakan, yah setidaknya untuk saat ini aku berusaha.
Ibu berapa banyak air mata yang telah kau keluarkan? Bahkan yang terakhir kau keluarkan itu, aku yakin seumur hidupku takkan bisa menggantinya. Ibu, aku selalu berbuat dosa kepadamu, namun kau selalu berhasil memaafkan aku. Yah kau memiliki mental yang sangat berbeda dengan siapapun, karena tak selalu setiap orang dapat dengan mudah memaafkan. Jika memang malaikat itu berbentuk manusia, aku yakin bentuknya adalah sepertimu. Terimakasih telah rela mengorbankan waktumu hingga kini untukku, untuk waktu yang telah terlewati aku minta maaf atas segala sesuatunya. Dan untuk waktu yang sangat berharga selama hidupku, aku berterima kasih telah meluangkannya bersamaku. Selamat Ibu :)
Selasa, 23 Desember 2014
Maybe it's only word, but i love you mama
Sabtu, 06 Desember 2014
DESEMBER
disini lagi-lagi di bulan yang sama aku kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku. dahulu, setahun yang lalu aku merasaka hal yang tak ingin aku rasakan kembali. aku rasa itu semua hanyalah perjalanan saja untuk aku menjemput pelangi itu, namun ternyata kini awan hitam itu kembali datang dan menutup semua pelangi yang selalu ingin aku raih.sirna, kata itu yang selalu ada di benakku, entah apakah alam sedang tidak bersahabat atau aku yang selalu membuat awan hitam itu namun yang kurasa aku selalu kecewa setiap kali aku memandang langitku yang berubah menghitam.aku pikir saat itu adalah awal aku dapat melihat lagi pelangi di langit yang biru, dengan datangnya awan di setiap pagi dan siangku, namun kini awan itu berubah kembali menjadi warna hitam, sangat pekat, gelap sehingga mungkin pelangi pun enggan menemui ku.aku tahu itu awan yang berbeda dengan dahulu, namun tetap saja keduanya menghitam dan menjauhkanku dari pelangi yang aku idamkan. bahkan senja yang selalu aku lihat belakangan ini pun kini tak lagi indah seindah dua senja dahulu kala. aku marah pada senja karena tak seindah dulu, namun apapun yang kulakukan senja tetaplah senja, tidak berubah, akan selalu indah sebagaimana aku memandangnya. jika aku melihatnya dengan mataku yang mulai berembun karena air mata, maka aku tidak akan pernah melihat ke indahan dalam senja lagi, namun jika aku melihatnya dalam semua keindahan yang aku rasakan, senja adalah hal yang sangat indah dan bisa dikatakan dapat menggantikan pelangi. yah walaupun aku tahu aku tak pernah dapat melihat dan merasakan pelangi di bulan ini, namun aku selalu yakin bahwa pelangi akan selalu ada ketika aku yakin bahwa memang ia akan benar-benar ada. seperti saat ini, aku melihat sedikit ada cahaya yang sangat bersinar terang dan indah di langitku, mungkin itu pelangi. tapi aku tak mau berharap dahulu sebelum penagi itu benar-benar muncul di hadapanku. namun setidaknya aku mampu tersenyum karena cahaya itu mampu membuatku bangkit dan berharap kembali bahwa pelangi itu selalu ada untukku. yah baru-baru ini aku melihat dan merasakan cahaya itu, walaupun sesungguhnya cahaya itu sudah tak asing bagiku, namun aku baru dapat merasakannya saat ini, yah mungkin karena saat itu ia meredup karena tertutup kedua awan pekat yang telah datang terlebih dahulu. namun keraguanku pun mulai muncul seiring cahaya itu, apakah cahaya itu akan berubah kembali menjadi awan hitam dan menutupi pelangi seperti sebelumnya? emtahlah, aku sedang tak bisa bahkan tak ingin mengira-ngira semua itu, aku hanya berharap cahaya itu akan selalu muncul dan bahkan lebih terang dan menjadi pelangi yang selalu aku harap. kini aku hanya bisa berharap sambil tersenyum melihat cahaya itu, karena hanya itu yang bisa aku lakukan sebagai manusia tak berdaya ini. yah walaupun terlalu dini membicarakan tentang cahaya yang sedang baru aku rasakan ini, namun setidaknya aku merubah pikiranku selama ini. aku mampu merubah semua bayanganku bahwa aku akan selalu melihat awan hitam di bulan ini, namun kini aku yakin bahwa ternyata aku pun bisa melihat cahaya di bulan ini. terimakasih cahaya baru hidupku, aku berharap kau adalah pelangi yang belum terlihat dan aku terlihat dan terasa olehku suatu saat nanti.
Jumat, 31 Januari 2014
Pahlawan Tanpa Jasa
Tidakkah
kalian muak menyalahkanku atas nilai-nilai mata kuliah yang kalian terima? Salahkah
aku jika nilai-nilai tersebut tidak sesuai dengan yang kalian harapkan? Mengapa
kamu terus menyalahkanku atas apa yang kalian peroleh di akhir semester? Benarkah
itu semua murni kesalahanku karena aku terlalu subyektif untuk member nilai
kepada kalian? Atau apakah benar bahwa aku tidak pernah bisa mengajar kalian
dengan baik sehingga kalian tidak mengerti apa yang aku sampaikan di kelas?
Wahai
anak-anakku tahukah kamu bahwa akupun selalu belajar sebelum aku memberikan
materi dikelas kepada kalian. Aku selalu ingin bisa menjawab semua pertanyaan
kalian yang terkadang aku sendiri tidak mengerti apa pertanyaan tersebut. Jika kalian
pikir aku hanya mengulang materi dari tiap tahunnya, itu semua memang benar,
namun tentu saja aku harus tetap belajar karena pertanyaan yang diberikan oleh
mahasiswa berbeda-beda pula tiap tahunnya.
Wahai
anak-anakku tidaklah kalian mengerti bahwa aku bukan saja mengurus kalian
dikelas? Namun dirumah ada keluarga yang menungguku untuk kuurus juga. Jika kalian
tahu, aku tak pernah lelah untuk datang setiap pagi ke kampus, di jam yang sama
untuk memberikan materi kepada kalian agar kelak untuk bekal kalian sebagai insan
pengabdi bangsa. Aku tak pernah lelah mendengarkan semua keluhan kalian tentang
nilai-nilai kalian yang kalian rasa tidak sesuai dengan apa yang kalian
harapkan. Aku tidak pernah lelah setiap malam hingga kadang aku begadang untuk
membaca dan memeriksa hasil tugas kalian.
Wahai
anak-anakku masihkah kalian mengeluh tentang letihnya belajar dan mengerjakan
tugas-tugas yang aku berikan? Apa kalian juga tahu bahwa aku tak pernah letih,
setiap hari aku datang kekampus yang berbeda, didaerah yang berbeda untuk
mengajar juga? Namun seketika letihku hilang karena berpergian dan kurangnya
istirahat karena melihat wajah kalian yang begitu bersemangat untuk mendapatkan
pelajaran tiap harinya. Jika boleh mengeluh aku akan mengeluh, namun apa aku
tidak pernah mau mengeluh karena takut kalian juga akan mengeluh.
Wahai
anak-anakku pernahkah kalian berkaca bahwa semua nilai yang kalian dapat adalah
hasil kerja keras kalian? Lalu mengapa kalian tetap tidak terima dengan apa
yang kalian dapat. Apakah selama aku mengajar kalian selalu antusias untuk
memperhatikan dan menanyakan hal yang kalian tidak tahu? Kapan kalian berpikir
bahwa aku disini tidak hanya memikirkan diriku sendiri, namun juga aku
memikirkan kalian, berapa biaya yang kalian keluarkan, bagaimana orang tua
kalian mencari biaya tersebut. Sungguh aku memikirkan itu semua, maka itu
berhentilah menuduhku akan semua tuduhan yang memberatkanku atas hasil-hasil
yang kalian terima.
Wahai
anak-anakku bukankah kita tidak akan pernah ada status mantan hingga kapanpun? Yah
karena hingga kapanpun kalian tetap muridku. Namun terserah bagaimana kalian
akan menganggapku di masa depan. Pernahkah kalian berfikir setelah kalian
menulis sesuatu tentangku di twitter kalian, atau setidaknya me-retweet semua
twitter yang menjelekanku? Apakah semua itu membuat kalian bangga? Ataukah membuat
kalian merasa lebih gaul dibandingkan mahasiwa atau pelajar-pelajar lain? Mengapa
kalian melakukan itu semua.
Wahai
anak-anaku ini semua bukanlah keluhanku, namun aku hanya ingin memberitahu
bahwa disini bukan hanya kalian yang berjuang. Namun kita berjuang bersama, yang
tentunya untuk bangsa ini. Bayangkan ketika kalian berhasil, siapakah orang
pertama setelah ayah ibumu yang ikut bangga akan keberhasilanku? Tentunya aku,
orang yang sering kalian bicarakan kejelekannya. Dikantin, di mall atau
dimanapun ketika kalian berkumpul dengan teman-teman kalian. Orang yang selalu
kalian katakana galak dan sulit untuk memberi nilai A. Orang yang selalu kalian
jarang perhatikan ketika member materi dikelas. Sungguh aku adalah orang yang
pertama akan bangga akan semua prestasimu dimasa mendatang setelah kedua orang tuamu.
Wahai
anak-anakku maafkanlah aku jika aku tidak meluluskanmu dalam mata kuliahku. Maafkan
aku jika memberi nilai yang tidak sesuai, maafkan aku atas semua perilaku yang
kutunjukan dikelas maupun diluar kelas. Itu semua aku lakukan bukan untuk
diriku sendiri, namun itu semua untuk kalian. Ingat bukan hanya kalian yang
berjuang disini, namun kita berjuang bersama. Maka itu bantulah aku untuk
sama-sama berjuang. Setidaknya hanya dengan memperhatikanku dikelas, dan
mencoba berpikir sebelum melakukan sesuatu. Aku adalah orang tuamu dikampus,
lalu hargailah aku sebagaimana orang tuamu. Sungguh akupun menganggapmu seperti
anakku, jika tidak untuk apa semua yang ku lakukan dari awal semester hingga
akhir.
Asing
Aku tersesat entah dimana, disini tempat yang sangat asing bagiku dan tak pernah aku lihat ataupun datangi sebelumnya. Aku tak tahu dimana aku berada, begitu gelap sehingga tanganku pun tak mampu untuk aku melihatnya. Tak ada lagi kebisingan yang seperti biasa aku dengar ataupun canda tawa yang selalu membuatku merasa terang. semua hilang bagai tak bersisa sedikitpun untuk aku ketahui apa yang terjadi, bahkan seperti tak pernah diciptakan sebelumnya.
Tak tahu harus bertanya pada siapa, dan entah ada siapa yang akan ku temui. Intinya semua ini begitu asing bagiku, sangat asing. Disini, ditempat ini, dalam gelap yang tak sedikitpun cahaya masuk, aku mulai bertanya apakah ini semua memang asing atau aku yang mengasingkan diriku dari cahaya dan keramaian sehingga hanya gelaplah yang mampu aku rasakan. Mata ini yang biasanya selalu , melihat sisi bising dalam hidup, kini seakan buta dan hanya kegelapan yang ada.
Tempat yang hitam dan sangat pekat bahkan membuat sesak sekujur tubuh ini. Ingin melawan namun tak mampu, ingin keluar namun tak tahu bagaimana caranya. Aku terus berjalan, menyusuri jalan yang tanpa tepi dan tak terlihat apa saja yang disekitarnya. Tubuhku yang kuat seolah melemah, keberanianku yang selalu ada entah pergi kemana. Siapapun selamatkanlah aku, bawalah cahayamu untuk menerangi ini semua. aku akan menunggu siapapun datang kesini dengan cahayanya dan membawaku pergi bersamanya.
Tak tahu harus bertanya pada siapa, dan entah ada siapa yang akan ku temui. Intinya semua ini begitu asing bagiku, sangat asing. Disini, ditempat ini, dalam gelap yang tak sedikitpun cahaya masuk, aku mulai bertanya apakah ini semua memang asing atau aku yang mengasingkan diriku dari cahaya dan keramaian sehingga hanya gelaplah yang mampu aku rasakan. Mata ini yang biasanya selalu , melihat sisi bising dalam hidup, kini seakan buta dan hanya kegelapan yang ada.
Tempat yang hitam dan sangat pekat bahkan membuat sesak sekujur tubuh ini. Ingin melawan namun tak mampu, ingin keluar namun tak tahu bagaimana caranya. Aku terus berjalan, menyusuri jalan yang tanpa tepi dan tak terlihat apa saja yang disekitarnya. Tubuhku yang kuat seolah melemah, keberanianku yang selalu ada entah pergi kemana. Siapapun selamatkanlah aku, bawalah cahayamu untuk menerangi ini semua. aku akan menunggu siapapun datang kesini dengan cahayanya dan membawaku pergi bersamanya.
Kamis, 30 Januari 2014
Terimakasih Bagas
Bagian I
Namaku Dinda, lengkapnya Dinda Arini Putri, umurku 19 tahun, aku tinggal didaerah Bandung tepatnya didaerah kawasan sarijadi. Disini aku tinggal bersama ibu dan juga kakak perempuanku yang bernama Anissa atau aku sering memanggilnya ica, ia 2 tahun lebih tua dariku. Kami tinggal bertiga karena ayahku adalah seorang kontraktor yang sering kerja untuk bolak-balik ke luar kota. Disini, dihari ini tepatnya hari jumat tanggal 16 Januari 2009. Aku hampir lupa, aku adalah murid kelas X atau biasa disebut kelas 1 SMA. Yah sekarang, malam ini tepatnya aku ingin bercerita tentang seorang pria yang baru saja ku sore kemarin. Namanya adalah Bagas, lengkapnya adalah Bagas Perdana. Hari itu bisa dibilang sebagai hari terindah yang pernah ada dalam hidupku karena aku telah menemukan semua jawaban dalam harapan-harapanku. Sore itu ketika aku baru saja pulang sekolah, terlihat dari kejauhan pria berseragam putih abu yang berlari mendekati ku.
Namaku Dinda, lengkapnya Dinda Arini Putri, umurku 19 tahun, aku tinggal didaerah Bandung tepatnya didaerah kawasan sarijadi. Disini aku tinggal bersama ibu dan juga kakak perempuanku yang bernama Anissa atau aku sering memanggilnya ica, ia 2 tahun lebih tua dariku. Kami tinggal bertiga karena ayahku adalah seorang kontraktor yang sering kerja untuk bolak-balik ke luar kota. Disini, dihari ini tepatnya hari jumat tanggal 16 Januari 2009. Aku hampir lupa, aku adalah murid kelas X atau biasa disebut kelas 1 SMA. Yah sekarang, malam ini tepatnya aku ingin bercerita tentang seorang pria yang baru saja ku sore kemarin. Namanya adalah Bagas, lengkapnya adalah Bagas Perdana. Hari itu bisa dibilang sebagai hari terindah yang pernah ada dalam hidupku karena aku telah menemukan semua jawaban dalam harapan-harapanku. Sore itu ketika aku baru saja pulang sekolah, terlihat dari kejauhan pria berseragam putih abu yang berlari mendekati ku.
Bagas : hai, km
dinda yah?
Dinda : iah, km
siapa yah?
Bagas : oia aku
bagas, aku murid kelas X 3. Boleh aku berkenalan?
Dinda : oh boleh
namaku dinda, murid dari kelas X 5
Bagas :
terimakasih kalo begitu, salam kenal dinda. Aku langsung yah, sampai bertemu
Dinda : oh iah
sama-sama. Oke
Siang itu dengan
perasaan sangat aneh bercampur aduk, aku terus bertanya dalam hati. Siapakah
pria ini, berani sekali tiba-tiba datang lalu mengajak berkenalan. Namun tidak
dapat juga bahwa perasaan aneh tersebut terdapat sedikitnya perasaan senang
karena pria ini merupakan pria yang begitu dibicarakan oleh hampir wanita satu
sekolahku, mulai dari kelas X, XI, hingga XII membicarakannya bukan hanya
karena ketampanannya namun juga karena kehebatannya bermain gitar dalam
bandnya. Yah namun walaupun begitu aku
tidak ingin cepat ambil keputusan dulu tentang bagaimana perasaanku karena
sebagaimapun dia disekolahku, tetap saja dia hanyalah pria yang baru saja ku
kenal. Tidak lama dari itu, seperti biasa aku mendatangi teman-teman satu
kelasku yang juga sering bermain denganku. Mereka adalah Shinta, Marsya, dan
Dinar. Mereka adalah teman baikku, dapat dikatakan mereka adalah sahabatku di
sekolah bahkan diluar sekolah. Mereka adalah tempatku berbagi semua, termasuk
cerita tentang apa yang baru saja ku alami. Ketika itu tepatnya kami sedang
diam seperti biasa di warung gaul (warung didaerah dekat sekolah) yang biasa
dijadikan tempat kami berkumpul sepulang sekolah untuk dihabiskan dengan
mengobrol bersama-sama.
Dinar : din,
kemana dulu tadi. Kok baru kesini?
Dinda : iah tadi
ada urusan dulu nay(panggilan untuk dinar) sorry
Marhsa : yaudah
sekarang mau kemana kita?
Shinta :
eh..eh..eh tunggu dulu, tadi kayanya aku liat ada yg kenalan sama bagas deh
Marsha : bagas ?
anak X 3 itu?
Shinta : iah bagas
cowo paling eksis disekolah kita
Dinda : eh..eh..
Cuma kenalan doang kok yah sebagai sama-sama anak satu sekolah
Marsha : hati-hati
loh din, saingan km banyak loh
Shinta : yaudah
sih biarin aja sya(panggilan untuk marsha) kalo emang bagas sukanya sama dinda
yah mau apa yang lain juga kan?
Dinar : aduh aduh
dinda udah ada yang ngeceng aja nih hahaha
Shinta, marsha,
dan dinar bersama-sama menertawakanku seperti sedikit mengejek tentang hal yang
kualami tadi.
Tidak lama dari itu kami berempat memutuskan untuk pergi ke toko
buku yang tempatnya ada di jalan merdeka depan BIP ( Bandung Indah Plaza) untuk
mencari cari buku pelajaran dan tidak ketinggalan juga buku bacaan seperti
novel, yah karena kami berempat sangat suka membaca novel. Sampai hampir petang
tiba kita memutuskan untuk pulang karena takut terlalu larut dan akan dimarahi
oleh ibu kita masing-masing. Dan ditengah perjalanan ketika sedang berjalan
keluar dari toko buku, tiba-tiba kami bertemu dengan bagas yang terlihat keluar
dari tempat bermain billiard yang tidak jauh dari toko buku. Dengan perasaan
malu kepada Marsha, Shinta, dan Dinar seketika aku lalu menyuruh kepada mereka
untuk berjalan lagi lebih cepat karena takut Bagas menghampiri ku dan aku habis
diejek oleh ketiga gadis itu lagi. Dan kamu tahu apa yang terjadi, yah seperti
yang kukira Bagas menghampiriku lalu menyapaku dan teman-temanku.
Bagas : hai dinda,
ketemu lagi. Hai teman-teman dinda
Marsha : hai
Bagas, aku Marsha
Tak ketinggalan
Dinar dan Shinta pun memperkenalkan diri mereka, lalu dengan wajah memerah
karena malu. Bukan malu karena Bagas menghampiriku, namun karena tak tahu apa
yang akan teman-temanku katakana soal ini.
Dinda : hai Bagas,
oia kami duluan yah udah sore mau pulang nanti takut dicariin
Bagas : oh begitu
yah, gimana kalo kalian aku antar saja?
Tanpa
persetujuanku tiba-tiba Shinta, Marsha, dan Dinar menyetujui untuk pulang
bersama Bagas. Dan tanpa bisa menolak juga akupun akhirnya ikut pulang
bersamanya. Ditengah perjalanan, didalam mobil bagas, kami berlima berbicara
tentang sekolah, tentang guru, anak-anak nakal yang ada disekolah dan
lain-lain. Setelah mengantarkan Marsha, Shinta, dan Dinar. Hanya tersisa aku
dan Bagas saja, karena rumahku dengan teman-temanku tidak dekat. Lalu dalam
mobil pun karena aku masih merasa malu, aku berusaha membuang malu itu dengan
bernyanyi lagu favoritku yaitu lagu Ten 2 Five-Love is you. Dengan seketika
Bagas mengajak ku berbicara tentang lagu tersebut.
Bagas : suka ten 2
five juga dinda?
Dinda : oh suka
banget he..he..he kenapa emang?
Bagas : wah kalo
gitu sama dong aku juga suka banget
Dinda : oia? Suka
lagu yang mana?
Bagas : semuanya,
bahkan aku punya koleksi mulai dari poster, baju, hingga semua album ten 2 five
mulai dari koleksi cd hingga kaset tape. Tapi aku paling suka lagu Love is you
Aku tak bereaksi
apa-apa setelah Bagas mengatakan itu semua, aku hanya menjawab seperlunya
dengan jawaban oh saja. Lalu tidak lama dari itu Bagas memutarkan lagu
kesukaanku itu dalam tape yang ada dimobilnya. Seketika suasana begitu hangat,
entah karena aku sedang bersama pria yang sangat terkenal disekolahku, atau
karena lagu yang aku suka itu.
Tidak lama
kemudian aku sampai dirumah, dan tidak lama juga aku sesegera mungkin turun
dari mobilnya, lalu mengatakan terimakasih karena takut dikatakan tidak sopan
setelah diantar langsung pergi begitu saja. Dan lalu Bagas memanggilku kembali.
Bagas : dinda,
tunggu
Aku berbalik dan
berbicara lagi kepadanya
Dinda : eh..
kenapa bagas, ada yang ketinggalan atau yang lupa yah?
Bagas : iah, aku
dinda aku lupa menanyakan nomer hp mu, hehehe. Boleh aku memintanya?
Dinda : untuk apa?
Bagas : yah untuk
menghubungi mu dong, boleh?
Dinda : kan bisa
ketemu disekolah
Bagas : yah itupun
kalo boleh, jika tidak yah aku akan meminta kepada temanmu hehe becanda
Dinda : oh gitu
yaudah nih (member tahukan nomer hp ku)
Bagas :
terimakasih Dinda
Dinda : iah
sama-sama Bagas, aku masuk dulu yah, oia apa mau masuk dulu ? soalnya tidak
enak sudah petang dan takut ibuku mencariku
Bagas : tidak
perlu, aku langsung saja. Salam saja buat mamahmu dan sampai bertemu disekolah
Dinda : oke kalo
begitu, duluan yah bye
Dengan bergegas
aku masuk kerumah karena takut ibu marah padaku karena itu sudah jam 6 lebih
dan aku pulang terlalu larut. Benar tadi itu adalah hal yang paling tidak
terduga olehku, perasaan malu ku hampir saja membuat aku menjadi orang yang
tidak sopan dengan hampir lupa mengajak seseorang yang baik mengantarku sampai
kerumah tidak kutawarkan untuk masuk. Tapi coba saja bayangkan jika kalian
menjadi aku waktu itu, mungkin kalian akan merasakan hal yang sama. Ah entah
aku berlebihan tapi biarlah karena aku yang merasakannya bukan km ataupun
kalian.
Sesampainya
dirumah ketika aku membuka pintu, dengan wajahnya yang sedikit cemas Ibu
berdiri didepan pintu menunggu kedatanganku pulang. Maklum aku dan kakaku tidak
pernah pulang kerumah diatas jam 5 sore karena itu memang sudah peraturan dari
orang tuaku. Memang sedikit berlebihan tapi aku yakin itu semua demi kebaikan
aku dan kakak karena orang tuaku khawatir terjadi apa-apa dengan kami. Yah aku
wajarkan karena akupun tidak ingin menjadi anak yang tidak menurut. Dengan
sedikit wajah cemasnya ibu menyapaku.
Ibu : dari mana
saja Dinda kok baru pulang jam segini
Dinda : iyah maaf
ibu, tadi aku sama temen-temen seperti biasa mampir dulu ketempat buku
Ibu : oh yasudah
jangan diulangi lagi yah, ibu khawatir kalau sampai km dan kakakmu pulang
terlalu larut karena diluar sana banyak orang jahat.
Dinda : iah ibu
maaf yah
Ibu : yasudah
masuk kekamarmu dan ganti bajumu yah.
Dinda : iah ibu
Ibu : eh tunggu
dulu, tadi siapa yang mengantarmu, ibu sepertinya belum pernah melihatnya yah?
Dinda : oh, itu
Bagas teman sekolah Dinda bu.
Ibu : oh begitu,
yasudah sekarang ganti bajumu.
Lalu aku
meninggalkan ibu dan bergegas untuk kekamarku untuk mengganti baju sekolah
dengan baju tidurku. Sesudah mengganti baju, aku kembali keruang keluarga untuk
berkumpul dan berbagi cerita tentang bagaimana hari ini dengan ibu dan ica yang
sudah lebih dulu ada di ruang keluarga sambil menonton tv. Tak lama kemudian
ibu menyuruh kami berdua untuk makan bersama, makan malam sederhana namun
selalu terasa nikmat karena dilakukan bersama kedua orang yang aku sayangi. Yah
walaupun setiap hari namun inilah saat-saat yang selalu kami tunggu, yah makan
dan berkumpul bersama untuk menghilangkan lelah karena rutinitas kami setiap
harinya. Hidangannya pun tidak terlalu istimewa hanya sayur bayam dan ayam
goreng saja, namun jika ibu yang memasaknya serta memakannya bersama ibu dan
kakaku, aku rasa itu adalah makanan ter enak dan termewah didunia karena
diringi rasa sayang akan hangatnya keluarga kami. Dan tak lama setelah makan
aku kembali kekamarku untuk membaca-baca kembali materi pelajaran yang telah
dipelajari di sekolah, sambil diam dan hanya melihati buku aku kembali teringat
tentang Bagas dan semua yang kulakukan hari ini bersamanya.
Walaupun hanya
berbicara sebentar ketika berkenalan dengannya, dan saat dia mengantarkanku
pulang dari toko buku namun aku yakin ini tidak seperti perkenalan biasanya
yang pernah ku alami. Tapi ku pikir, untuk apa aku memikirkannya, pria yang
belum begitu ku kenal dan yah setiap wanita disekolah juga pasti memikirkannya.
Jadi tak perlulah aku memikirkannya. Dan malam itu telah kuputuskan untuk tidur
karena aku tak ingin terus menerus merasa aneh seperti itu.
Hari ini hari
sabtu tanggal 17 Januari 2009 tepat jam 10 pagi, aku baru saja terbangun dari
tidurku semalam, dengan wajah masih mengantuk dan mengenakan pakaian tidurku,
aku diam sejenak dikasurku untuk melamun sejenak. Yah itulah hal yang sering ku
lakukan ketika aku bangun tidur. Yah tak lama kemudian aku langsung menuju
kamar mandi untuk mencuci mukaku. Oia aku lupa memberi tahu bahwa hari sabtu
sekolahku libur. Yah dan kebiasaan yang sering aku dan keluargaku lakukan saat
libur adalah berbelanja bersama ke pasar untuk membeli bahan masakan. Setelah itu
tidak ada kegiatan yang istimewa pada hari ini. Karena pada saat malam pun aku
jarang keluar rumah untuk main bersama teman-temanku, yah kamu tau sendiri
mengapa alasannya.
Hari minggu,
seperti biasa aku bangun jam 10 pagi dan dengan kegiatan yang sering ku lakukan
ketika bangun, namun berbeda karena aku mulai bersiap-siap untuk pergi karena
ada janji dengan ketiga sahabatku untuk menonton film di bioskop. Yah dan
setelah mandi aku lalu bergegas untuk pergi karena sahabtku sudah menungguku.
Ibu : kemana din
jam segini udah pergi?
Dinda : mau main
bu sama Shinta, Marsha, dan Dinar
Ibu : mau main
kemana? Awas pulangnya jangan terlalu larut
Dinda : nonton bu,
iah ibu siap
Ibu : yasudah kalo
begitu hati-hati
Dinda : oke bu,
oia lupa minta uang hehehe
Ibu : ah dasar
kalo urusan uang saja kamu tidak pernah lupa
Dinda : makasih bu
dadah
Setelah sampai
dibioskop tempat kami menonton, seperti biasa kami mengobrol layaknya seorang
wanita seusia kami pada umumnya. Dan tak lama menunggupun akhirnya kami
menonton karena tiketnya sudah dibelikan oleh Dinar yang datang terlebih
dahulu. Setelah usai menonton, kami lanjut untuk makan sebelum pulang, tidak
jauh di kantin yang ada di mall tempat kami menonton.
Dan ketika kami
sedang makan, tibalah pacar dari sahabat-sahabatku, namun hanya aku yang tidak
punya pacar. Yah aku sudah biasa karena memang aku sering menjadi obat nyamuk
ketika mereka bersama pacarnya. Merasa sepi ditengah keramaian, namun apa boleh
buat. Setidaknya aku senang bahwa sahabatku memiliki pasangan. Yah walaupun aku
tidak punya.
Tidak lama setelah
makan, kami memutuskan untuk pulang. Marsha dan Dinar pamit untuk pulang
berpisah dengan aku Shinta dan pacarnya. Yah Shinta mengantarkanku pulang
karena rumah Shinta lah yang paling dekat denganku diantara dua sahabatku yang
lain. Sesampainya dirumah aku langsung bergegas masuk kerumah. Dan ketika sampai
dirumah kak Ica langsung menyapaku.
Ica : hey din dari
mana?
Dinda : habis
nonton kak kenapa?
Ica : oh gak
apa-apa, cuma nanya aja kok
Dinda : oh gitu, yaudah dinda langsung kekamar yah
kak.
Ica : oke
Akupun bergegas
untuk masuk kekamar walaupun tak tahu apa yang akan aku kerjakan di kamar. Yah hanya
diam, mengisi sedikit sisa pekerjaan rumahku dan tentunya mendengarkan lagu
kesukaanku. Sampai akhirnya aku tidur dan haripun tanpa terasa mulai beranjak
dan berganti.
Hari ini aku
kesiangan untuk pergi kesekolah, dan aku dengan malu aku dihukum karena tidak
mengikuti upacara bendera. Seperti biasanya murid-murid yang dihukum karena
terlambat dikumpulkan didepan gerbang untuk menunggu hingga upacara selesai dan
selanjutnya akan dihukum menghormat bendera selama lima belas menit sebelum
memasuki kelas. Dan kamu tahu apa yang membuatku lebih merasa malu hari itu? Yah
Bagas melihatku lalu tersenyum kepadaku yang sedang menghormat bendera. Namun aku
tidak membalas senyumnya bukan karena aku sombong atau marah kepadanya, namun
karena aku malu semalu-malunya. Entah bagaimana yang dapat kugambarkan namun
intinya semua gambaran tidak dapat mendeskripsikan rasa malu ku saat itu.
Setelah hukuman
selesai aku bergegas untuk masuk kelas, dan ketika dikelas aku mendapatkan sms
entah dari siapa. Dan kamu tahu ketika aku buka apa isinya dengan nomer tanpa
nama dan tidak kukenal.
"Hey Dinda, km terlihat lucu ketika sedang menghormat bendera. He..he..he
jangan marah yah, tapi wajahmu terlihat sangat merah saat kepanasan tadi."
Masih dengan
perasaan yang bingung karena tidak tahu dari siapa sms itu, aku terus diam dan
memikirkan siapakah orang yang lancang mengirimkan sms kepadaku seperti itu. Ah
sudahlah tidak perlu kupikirkan karena jika aku tahu, aku akan marah kepada
orang itu. Yah setelah 3 jam belajar dikelas, akhirnya saat yang ditunggu oleh
semua siswa. Yah bel istirahat berbunyi. Dan seperti biasa aku dan sahabatku
lalu kekantin untuk makan bersama dan mengobrol pastinya. Namun dikantin
tiba-tiba Bagas menghampiri kami.
Bagas : hey kalian
boleh aku ikut gabung duduk disini
Serentak Shinta,
Marsha, dan Dinar menjawab boleh..
Bagas : apa boleh
aku duduk disini Dinda?
Dinda : yah boleh
silahkan
Lalu Bagas duduk
disebelahku, yah jika kamu tahu saat itu aku masih merasa malu karena kejadian
pagi itu saat bagas melihatku dan tersenyum. Kami berlima akhirnya makan dan
mengobrol dengan sangat gembira. Membicarakan apapun seolah kantin itu hanyalah
milik kami berlima tanpa memperdulikan orang lain. Setelah beres makan kami
akhirnya kembali lagi ke kelas untuk melanjutkan pelajaran berikutnya. Shinta, Dinar,
dan Marsha berjalan duluan meninggalkan aku dan Bagas. Seolah mereka sengaja
ingin aku berdua dengan Bagas. Diperjalanan menuju kelas bagas memberi tahuku
sesuatu.
Bagas : dinda tadi
sampai tidak sms ku?
Dinda : hah? Sms yang
mana?
Bagas : oh mungkin
engga sampai, gak bukan sms apa-apa kok hehehe.
Dinda : oh iah
mungkin ga kekirim
Bagas : iah, eh
udah didepan kelasmu nih. Aku lanjut kekelasku yah dinda
Dinda : iah bagas
dadah
Bagas : dadah
sampai bertemu lagi dinda
Sempat aku berpikir
bahwa sms pagi tadi adalah sms dari Bagas, namun aku tak mau menanyakannya
karena mungkin memang tidak terkirim sms darinya. Namun masih seperti pagi
tadi, aku hanya diam dikelas dan memikirkan siapakah orang yang telah memberiku
sms seperti itu. Yah tapi aku berpikir bagaimana jika pulang nanti aku bertanya
lagi kepada Bagas mengenai sms yang aku terima apakah merupakan sms darinya
atau bukan. Yah aku tak mau pusing lagi aku tunggu saja hingga pulang nanti.
(bel pulang
sekolah bordering) yah aku lalu bergegas keluar kelas meninggalkan sahabatku
untuk mencari Bagas. Namun aku tidak menemukannya, mungkin ia sudah pulang
lebih dulu dari aku. Pikirku berkata untuk apa aku mencarinya, buang-buang
tenaga saja, dan kalo memang Bagas yang mengirim sms tadi itu, mungkin suatu
saat dia akan bilang kepadaku. Namun biarlah tunggu saja siapa yang
mengirimnya, jika tahu nanti aku akan langsung memarahinya.
Seperti biasa aku
dan sahabatku berkumpul dulu di warung gaul. Namun setelah aku tiba di warung
gaul, kamu tahu apa yang kutemui? Yah Bagas ada disana bersama 2 teman prianya
yaitu Dika dan Roni. Dan bagas menyapaku, lalu dia menawariku untuk mengantarku
pulang. Aku memutuskan untuk tidak menerima tawarannya namun Marsha dan Dinar
seolah memaksaku untuk menerima tawaran dari Bagas. Oh tidak mereka berdua
membuatku mati kutu, karena jika aku menolak tawarannya saat itu mungkin Bagas
akan merasa malu depan teman-temanku dan juga teman-temannya. Akhirnya tidak
lama diam diwarung gaul aku dan Bagas pulang, sekali lagi bukan karena aku yang
ingin menerima tawarannya namun karena aku merasa tidak enak dan tentunya
karena teman-temanku yang mengatakan iah seolah memaksaku untuk pulang bersama
Bagas.
Ditengah perjalanan Bagas memutar lagi lagu
kesukaanku dan memberikanku kaset dari band tersebut.
Dinda : ini serius
buat aku bagas ? tidak perlu, aku malu menerimanya
Bagas : iah ambil
aja dinda, kamu suka kan?
Dinda : terus
kamu? Bukankah kamu juga suka dan mengoleksi
Bagas : iah, tapi
gak apa-apa itu buat kamu aja. Aku masih punya CD nya kok
Dinda : serius
bagas?
Bagas : iah
Dinda : yaudah deh
makasih yah bagas
Bagas : iah dinda
sama-sama dengerin yah
Perasaanku saat
itu sangat campur aduk, senang, malu, dan tak tahu lagi seperti apa. Intinya aku
sendiri tidak dapat menggambarkannya. Namun jangan salah sangka dulu, aku
senang bukan karena Bagas memberiku sesuatu. Namun karena yang diberikannya
adalah kaset band kesukaanku. Tak lama kemudian aku sampai dirumahku.
Dinda : makasih
bagas udah nganterin dan ngasih kaset juga
Bagas : sama-sama
dinda he..he
Dinda : oia bagas
mau mampir dulu
Bagas : tidak
perlu aku langsung saja, aku udah ada janji mau latihan band
Dinda : oh gitu
yaudah deh aku masuk yah
Bagas : iah dinda
dadah
Ketika masuk
dirumah aku melihat suasana hening dalam rumah seperti tidak ada siapa-siapa. Yah
betul ternya ibu dan kakakku sedang pergi entah kemana, mungkin kerumah tante
monic. Tetanggaku yang rumahnya berada sekitar tujuh rumah dari rumahku. Beliau
teman ibuku, mereka sudah berteman dari sebelum aku lahir. Dan tentunya
keluargaku sering sekali kerumahnya, dan juga beliau sering kerumahku untuk
berkunjung juga.
Aku langsung
kekamarku untuk menaruh tas. Dan tiba-tiba ada sms dari orang yang nomernya tak kukenal itu. Smsnya adalah
"Hey, jangan lupa dengerin yah lagu dari kasetnya dinda hehehe"
Dan ternyata
benar, orang itu adalah Bagas. Orang yang mengirimku sms tadi pagi, seketika
perasaan ingin marahku menjadi hilang tak tahu kemana dan entah mengapa, aku
tahu. Apa kamu tahu mengapa aku tidak jadi untuk marah? Sungguh entah mungkin
karena dia memberiku kaset. Tapi aku bukanlah orang seperti itu yang tiba-tiba
dapat menghilangkan rasa marah karena orang memberiku hadiah, kecuali pada ibu,
ayah dan kakakku saja aku mudah untuk memaafkan orang. Namun yah ini pertama
kali aku dapat memaafkan, bukan memaafkan mungkin tepatnya menghilangkan rasa
ingin marahku. Ah sudahlah aku bingung untuk menceritakan ini. Akupun membalas
smsnya.
"Oh ini nomer km bagas? Iah makasih yah aku seneng dapet kaset itu
he..he..he"
Bagas pun tidak
membalas lagi smsku, entah sesungguhnya apa yang diinginkan orang ini aku tak
tahu. Namun sepertinya dia tahu bahwa aku sangat marah dengan sms-nya tadi
pagi, dan kini hilang marahku. Ah apakah dia ini adalah seorang peramal, atau
memiliki indera ke-enam sehingga dapat membaca keadaanku? Mungkin aku
berlebihan, namun perasaanku bahwa Bagas seperti orang yang sudah lama aku
kenal nampaknya tidak salah karena mungkin dia seperti tau kehidupanku dan apa
yang aku rasakan tanpa member tahunya.
Selasa, 28 Januari 2014
Ikhlas? yah itulah jawabannya
Jika kehilangan bahagiaku
adalah cara untuk menciptakan bahagiamu, aku rela. Setidaknya tujuanku
bersamamu adalah untuk menciptakan senyuman itu bukan. Yah bukan berarti tanpa
janji, setidaknya kamu harus berjanji agar senyuman itu akan selalu ada, bukan
pula aku memperhitungkan tentang apa yang telah aku berikan, namun janganlah
buat usahaku menjadi sia-sia dan tidak bermakna jika suatu saat air mata itu
akan kembali menghapus senyuman itu.
Bayangkan dahulu ketika aku
datang dan menawarkan semua kebahagiaan yang setidaknya membuatku berusaha
untuk melakukan segala cara agar terlaksana. Namun setelah lama aku
disampingmu, senyuman itu berubah menjadi kebencianmu akan sikapku yang telah
berubah, menurutmau apa itu adil jika keinginanku untuk bersama denganmu aku
tukar dengan kepergianmu demi senyuman itu lagi. Yah entah mengapa aku selalu
beranggapan bahwa semua tidak akan ada yang benar-benar bisa terjadi. Namun setidaknya
dengan kehilangan ini aku berharap itu usaha terakhir yang mampu aku lakukan.
Tak perlu mencari lagi alasan
untuk pergi, karena aku sudah sepakat dengan diriku di malam itu agar sudahlah
kurelakan saja ini semua demi senyuman itu. Yah tentunya kebahagiaanku. Dahulu
menggenggam tanganmu terasa begitu lembut dan hangat untuk dengan sederhana
membuat kebahagiaan, namun kini membayangkannya saja aku takut karena itu semua
membuat air matamu datang dalam mimpiku. Aku sepakat jika pergimu merupakan
bahagia aku akan lakukan, namun aku belum sepakat jika suatu saat kita bertemu
lagi aku tidak akan menggenggam tanganmu.
Jika cinta itu adalah
ketulusanku untuk merelakanmu, aku sedang cinta karena itu yang sedang aku
lakukan. Namun jika suatu saat kau meminta ku kembali dengan alasan kamu tidak
mampu tersenyum tanpaku ternyata, aku mungkin tidak akan kembali karena aku tak
mau lagi melihat begitu banyak air mata karenaku. Suatu saat rindumu akan
selalu ada mungkin, namun bukan untukku. Bahkan ketika kau menemukan kehangatan
lain dalam jemari seseorang, aku akan tetap tersenyum walaupun itu bukan
jemariku. Karena aku telah menitipkanmu lewat siapa saja yang mampu membuatmu
tersenyum. Yah cinta aku akan selalu ada dalam hati seseorang untuk menjaga
senyuman itu.
Kita tidak sedang belajar
matematika saat ini, bukan juga fisika yang membutuhkan hitung-hitungan untuk
mencapai hasil dengan logis. Bukan juga ilmu sosial lain yang memerlukan teori
untuk dapat memecahkan masalahnya. Ini semua hanyalah suatu pengorbanan yang
tak pernah secara logis ataupun teoritis dapat digambarkan. Ini semua hanyalah
bentuk tindakan dimana senyuman menjadi satu-satunya jawaban tanpa
hitung-hitungan ataupun teori. Yah keikhlasan itulah ilmunya, yang selalu
diajarkan oleh instansi kehidupan. Tentunya ijasahnya adalah hati.
Senin, 27 Januari 2014
hallo pelukis hari
Setelah sekian lama, akhirnya aku menjatuhkan
pilihan pada seorang wanita. Belum begitu aku kenal namun setidaknya mampu
membuatku lupa akan duniaku yang hitam-putih menjadi sedikit warna warni karena
kehadirannya. Wanita yang sudah lama aku lihat namun baru-baru ini aku
mengenalinya. Walaupun belum begitu mengenalinya, dan dia belum begitu
mengenali aku. Setidaknya dia tahu bagaimana memperlakukan hariku menjadi
istimewa.
Seketika aku sering untuk selalu ingin
menghubunginya, bahkan dalam malamku yang hening, tak terlewatkan untuk sedikit
memikirkannya sebelum aku terjaga dalam tidurku. Tak perlu ku sebut namanya,
tak perlu juga kalian tahu karena aku aku takut kalian merasakan apa yang
kurasa juga sehingga aku takut kalian merebut ia dari hariku yang akan datang
nanti.
Sebelumnya aku masih bingung untuk berfikir kepada
siapakah aku akan mulai menjatuhkan pilihan ini, namun tanpa pernah aku sadari
dan tanpa pernah aku maksudkan tiba-tiba saja aku merasa bahwa hatiku telah
memilihnya sendiri. Aku belum pernah tersenyum kepadanya, menggenggam tangannya
ataupun yang lainnya. Namun entah mengapa dia seperti telah lama aku kenal dan
menjadi orang yang aku cari selama ini karena telah hilang dalam masa laluku.
Biarkan lah dulu ini semua menjadi teka-teki
apakah akan tetap dia yang mampu mewarnai hariku dengan tanpa warna biru. Ataukah
masih ada orang lain yang akan membuatku memilih lagi nantinya. Aku tak mau
berspekulasi soal ini, karena aku kini aku hanya ingin menikmati saja
warna-warna indah yang telah ia ciptakan.
Kini aku hanya ingin terus menghubunginya, karena
aku tak tahu hingga kapan aku akan berhenti mencoba untuk menghubunginya, yah
aku hanya ingin menjadi yang terbaik untuk hariku saat ini. Tak perlu berharap
kapan, esok, ataupun seterusnya, namun hari ini dahulu aku akan mencoba untuk
membantunya mewarnai hari-hari ku. Yah ini hanyalah apa yang inign aku
tuliskan, bukan berarti ini adalah yang aku maksud. Namun bukan salah kalian
pula jika ini semua membuat kalian berpikir bahwa adalah yang aku maksud.
Jika kalian menjadi diriku apakah kalian akan
mengajaknya untuk bertemu secara langsung denganku? Yang pasti dia cantik,
baik, dan sempurna, itulah yang orang lain katakana kepada ku. Apapun yang
kalian katakan, mungkin aku agak sedikit berlebihan soal ini, namun apalah
pedulinya karena aku yang merasakan. Jika kalian berpikir aku harus mengajaknya
secara langsung, mungkin itu tidak salah, percayalah itu yang ingin ku lakukan
namun aku adalah tipe orang yang tak pernah berani untuk begitu saja menatap
wajah seseorang yang berbeda dihadapanku.
Ini semua untuk pelukis hari yang paling hebat
yang kini ada didalam hidupku, oh mungkin belum namun usahaku adalah suatu saat
aku akan membuatnya melukis dihadapanku langsung.
Tulisan Tanpa Arah
Jika cinta
adalah sebuah kebingungan, berarti aku sedang jatuh cinta. Jika cinta adalah
sebuah kebahagiaan berarti aku sedang jatuh cinta. Jika cinta itu juga soal
kegelisahan berarti aku sedang jatuh cinta. Jika ada yang lebih mampu
mendefinisikannya lebih baik dari apa yang aku definisikan tadi biarlah, tak
perlu kalian beri tahu padaku.
Karena aku hanya
sedang mencoba mendefinisikan cinta semauku. Yah bukan soal perasaan namun
tentang jiwa kosong inilah yang aku rasakan, bingung, bahagia, gelisah, itu
semua yang sedang aku rasakan. Walaupun definisi itu berbeda2 namun itu semua
memiliki kesamaan yaitu aku tak tahu berasal dari siapa. Mungkin karena aku
terlalu sibuk mencintai diriku sendiri saat ini sehingga aku tak mampu melihat
siapa orang yang datang perlahan dengan mengetuk pintu ini begitu lembut.
Aku yakin dia
adalah orangnya, marilah kita berspekulasi sedikit tentang apa cinta itu, aku
tak meminta kalian untuk mengkritisi spekulasi ku ini, yah karena ini bukan
yang kalian rasakan. Jadi baca saja tak perlu berspekulasi. Aku rasa cinta itu
memang suatu kebahagiaan, mengapa? Karena ketika aku jatuh cinta kepada
seseorang, lalu aku bertemu orang tersebut seketika semuanya bercampur aduk,
yah deg2an, senyum sendiri, tak mampu menyapa dan intinya begitu senang
walaupun melihatnya saja.
Namun ketika
cinta itu terplokamirkan, bahagianya pun tidak selalu ada. Yah yang pada
awalnya itu semua kebahagiaan, lalu timbul sedikit masalah akan menjadi amarah
antara kedua belah pihak. Ketika cemburu mulai menguasai semua, itupun mulai
jadi penghambat kebahagiaan walaupun katanya cemburu itu adalah bagian dari
cinta.
Bayangkan ketika
rasa rindu dikalahkan oleh cemburu, apakah akan tetap senang tidak dapat
mengekspresikannya? Aku yakin tidak. Lalu apa solusinya, apakah dengan
menghilangkan cemburu? Tentu saja tidak bisa karena itu semua datang satu paket
dengan cinta. Jadi jika dilihat lagi cinta itu apa? Apakah benar jika cinta itu
adalah gabungan dari semua perasaan? Ada senang, sedih, bingung, marah, gelisah,
dan lainnya.
Yah mungkin itu
definisi yang paling tepat untuk saat ini. Jadi jika kita mencintai berarti
kita harus siap menggabungkan perasaan kita menjadi satu. Tentang seseorang yang
aku cintai, aku yakin ada. Yah karena kini ketika aku merasakan bahwa aku cinta
kepadanya, perasaanku jadi campur aduk, kadang aku senang, bingung, dan
lain-lain. Tulisanku mungkin tidak tahu tentang apa karena aku hanya suka
menulis, jadi jangan larang aku menulis. Malam ini cukup sampai disini dulu,
ini semua belum selesai, jadi suatu saat mari kita bahas lagi lebih rinci.
Minggu, 26 Januari 2014
Arti Mahasiswa Yang "hampir memudar"
Selamat malam kawan. Aku hanya ingin menulis apa yang ada dikepalaku dan apa yang belum ada dalam kepalaku. Aku hanya berpesan untuk kalian wahai mahasiswa, ingatkah kalian tentang adanya "Tri Darma Perguruan Tinggi". Yah tugas kita saat ini untuk merealisasikan itu. Masihkah kalian berfikir bahwa tugas kalian bukan hanya belajar dan seolah-olah tidak peduli pada apa yang sedang berkembang dilingkungan belajar kalian saat ini.
Bayangkan seberapa banyak yang kalian ingin tahu tentang realitas yang ada disekitar kalian dibanding kalian hanya diam dan berpura-pura seolah kalian buta dan tuli untuk dapat mengamati itu semua. Pernahkah kalian bertanya untuk apakah biaya yang kedua orang tuamu berikan kepada kampusmu. dan apakah ilmu yang dipelajari dikelasmu dengan km diam dan acuh telah membuatmu semakin tahu tentang apakah ilmu itu.
Aku hanya bosan melihat tingkah laku yang seolah tidak peduli namun sering kali menyuarakan ketidak puasan akan suatu hal. seberapa mengertikah kalian akan tugas kalian sebagai mahasiswa. Bayangkan ketika hanya data hadir kelas yang kalian butuhkan untuk agar bisa meraih tiket menjalankan Ujian Akhir saja, apakah terpikir begitu meruginya kalian dengan biaya sangat besar yang sudah dikeluarkan namun hanya untuk mengisi daftar hadir saja. Atau tidak, hanya dengan berpura-pura mendengarkan dosen mengajar namun pikiran kalian sesungguhnya tidak berada disitu.
Sebangga itukah kalian pada apa yang kalian miliki saat ini, sehingga ketika kalian datang kekampus kalian hanya ingin memamerkannnya. Salahkah jika kita mencoba agar lebih peduli pada apa yang sedang terjadi dikampus kita. bukan hanya datang, menghabiskan waktu dikantin untuk membahas seputar lagu, film atau hal-hal lain yang sesungguhnya bukanlah hal yang seharusnya kita bahas. Aku tidak merasa benar dengan tulisan ini, namun aku mencoba untuk lebih peduli lagi.
Sudahkan kalian tahu tentang lembaga yang ada dikampus kalian ini. Pernahkah kalian mencoba untuk menjadi salah satu bagian dari lembaga tersebut. Saranku namun tak mengapa jika kalian tidak menurutinya, jika kuliah hanya dijadikan ajang pengisian absen dan mengobrol dikantin saja, itu hanya membuat kalian merugi. Apakah panutan kalian hanyalah dengan melihat contoh beberapa orang sukses dengan notaben nilai rendah ketika kuliah, dan tidak aktif dilingkungan kampus. Tanpa pernah mencari tahu bahwa lebih banyak juga mereka yang sukses dengan prestasi yang baik juga ketika kuliah.
Sesungguhnya apa yang membuat kalian tidak peduli. Dan mengapa kalian harus membanggakan itu semua. Hentikanlah itu semua dan mari kita bangun lingkungan kita sesuai apa yang kita harapkan. Jangan pernah mengeluh tentang sistem apa yang ada dilingkungan kalian jika kalian hanya peduli pada daftar hadir saja. Mulai dari saat ini mari kita bersama-sama belajar untuk mencari ilmu, mendapatkannya, lalu menerapkan ilmu itu.
Bayangkan seberapa banyak yang kalian ingin tahu tentang realitas yang ada disekitar kalian dibanding kalian hanya diam dan berpura-pura seolah kalian buta dan tuli untuk dapat mengamati itu semua. Pernahkah kalian bertanya untuk apakah biaya yang kedua orang tuamu berikan kepada kampusmu. dan apakah ilmu yang dipelajari dikelasmu dengan km diam dan acuh telah membuatmu semakin tahu tentang apakah ilmu itu.
Aku hanya bosan melihat tingkah laku yang seolah tidak peduli namun sering kali menyuarakan ketidak puasan akan suatu hal. seberapa mengertikah kalian akan tugas kalian sebagai mahasiswa. Bayangkan ketika hanya data hadir kelas yang kalian butuhkan untuk agar bisa meraih tiket menjalankan Ujian Akhir saja, apakah terpikir begitu meruginya kalian dengan biaya sangat besar yang sudah dikeluarkan namun hanya untuk mengisi daftar hadir saja. Atau tidak, hanya dengan berpura-pura mendengarkan dosen mengajar namun pikiran kalian sesungguhnya tidak berada disitu.
Sebangga itukah kalian pada apa yang kalian miliki saat ini, sehingga ketika kalian datang kekampus kalian hanya ingin memamerkannnya. Salahkah jika kita mencoba agar lebih peduli pada apa yang sedang terjadi dikampus kita. bukan hanya datang, menghabiskan waktu dikantin untuk membahas seputar lagu, film atau hal-hal lain yang sesungguhnya bukanlah hal yang seharusnya kita bahas. Aku tidak merasa benar dengan tulisan ini, namun aku mencoba untuk lebih peduli lagi.
Sudahkan kalian tahu tentang lembaga yang ada dikampus kalian ini. Pernahkah kalian mencoba untuk menjadi salah satu bagian dari lembaga tersebut. Saranku namun tak mengapa jika kalian tidak menurutinya, jika kuliah hanya dijadikan ajang pengisian absen dan mengobrol dikantin saja, itu hanya membuat kalian merugi. Apakah panutan kalian hanyalah dengan melihat contoh beberapa orang sukses dengan notaben nilai rendah ketika kuliah, dan tidak aktif dilingkungan kampus. Tanpa pernah mencari tahu bahwa lebih banyak juga mereka yang sukses dengan prestasi yang baik juga ketika kuliah.
Sesungguhnya apa yang membuat kalian tidak peduli. Dan mengapa kalian harus membanggakan itu semua. Hentikanlah itu semua dan mari kita bangun lingkungan kita sesuai apa yang kita harapkan. Jangan pernah mengeluh tentang sistem apa yang ada dilingkungan kalian jika kalian hanya peduli pada daftar hadir saja. Mulai dari saat ini mari kita bersama-sama belajar untuk mencari ilmu, mendapatkannya, lalu menerapkan ilmu itu.
surat untuk anakku
Hai anakku sayang, maaf karena selama sisa hidupku selalu membuatmu kecewa dengan apa yang selalu tidak mampu aku berikan padamu. Engkau adalah kebanggaanku, kau yang memberi semua hangat ketika dingin telah tiba, kau yang memberiku semangat untuk melakukan suatu hal. Untuk apa? Aku selalu mendambakan senyummu.
Bahkan untuk semua hal yang tidak pernah ku beritahu padamu, aku selalu tidak pernah bisa tidur nyenyak semenjak aku memberikan jam malam padamu, aku tak pernah bisa makan senikmat dahulu setelah ku tahu kau telah dewasa dan menghadapi lingkungan luar yang baru. Sejujurnya aku tak pernah memberitahumu bahwa aku selalu menangis ketika aku tak mampu memberikan apa yang kau minta dengan memaksaku, aku selalu menangis ketika kau begitu iri dengan kehidupan teman-temanmu yang tidak kau miliki.
Sesungguhnya aku tak pernah ingin memberi tahumu bahwa aku selalu takut terhadap pasangan yang kau bawa dan kau perkenalkan padaku karena suatu saat dia yang akan mengambil waktu-waktu mu untukku. Aku tak pernah memberitahumu saat kau tertidur aku selalu melihat wajahmu yang selalu lugu dan tetap menjadi bayi kecil bagiku, aku selalu ingin melihat senyumanmu yang tulus seperti saat dulu kau baru bisa berjalan dan aku menyelamatimu dengan canda tawaku untuk selalu menyemangatimu. Tahukah engkau anakku bahwa aku selalu ingin kau ajak berjalan-jalan ketempat dimana kau selalu menghabiskan waktumu bersama teman-temanmu.
Aku ingin sekali untuk kau ajak berbelanja dan tertawa sama dengan ketika kau bersama teman-temanmu. Tahukah kau anakku? Aku selalu tidak pernah suka akan tibanya 17 tahun usiamu dibalik senyum manisku yang merayakan tahun itu, aku selalu takut karena dalam waktu dekat kau akan diambil oleh pasanganmu dariku. Aku tak pernah member tahumu bahwa terkadang aku meminjam kepada teman-temanku sedikit uang untuk membelikan barang yang kau inginkan yang terkadang tak pernah kau rawat dengan baik. Ketika kau mulai belajar sedikit makna kehidupan dari lingkungan baru yang kau pelajari, kau selalu membanggakan semua itu sehingga apa yang dulu pernah ku katakan tidak pernah kau dengar kembali, padahal ketika kau masih sangat kecil akulah orang yang kau percaya. Apakah kau ingat anakku? Ketika dulu banyak orang yang membuatmu mengangis ketika kau masih kecil, kau selalu memanggil namaku dan tidak berhenti menangis sebelum aku menggendongmu, dan terkadang kau tertidur saat ku gendong dirimu.
Aku tidak pernah memberitahumu bahwa saat ini aku pun ingin menjadi tempat kau mencurahkan hatimu ketika kau mendapatkan beban dunia ini sama seperti kau selalu menceritakan semua yang kau rasakan kepada teman-temanmu. Aku hanya ingin selalu menjadi aku yang dulu yang selalu ada buatmu. Namun aku selalu tersenyum dibalik apapun yang kau lakukan anakku, karena kau tahu. Aku bangga memiliki dirimu walaupun kau selalu mengatakan bahwa semua adalah hasil jerih payahmu saja. Ada hal yang tidak pernah aku beritahu padamu bahwa kini aku sudah sangat tua dan rentan sehingga tak sebugar dulu lagi, aku tak mampu untuk seperti dulu yang selalu mampu menggendongmu kemanapun asal kau tidak mengangis.
Tidak semua hal dapat kuberitahu padamu karena aku hanya ingin menceritakan semua hal yang dapat membuatmu bahagia. Ada hal yang tak selalu aku beritahu, bahwa aku terkadang iri dengan teman-temanmu yang mampu membuatmu tertawa lepas namun aku yang sedang duduk sendirian melihat televise untuk menghabiskan masa tuaku tak mampu lagi melakukannya dan kau terlihat menghiraukan teman-temanmu.
Anakku apakah aku hanya membuatmu malu dan tidak dapat membuatmu bangga sehingga ketika kita jalan bersama kau enggan untuk menuntun dan memeluku sehangat kau memeluk pasanganmu? Pernahkah kau berfikir bahwa usaha yang kita lakukan sekuat tenaga hanyalah untukmu, untuk semua kebahagiaan dan kesuksesanmu? Pernahkah kau berfikir bahwa gigiku hanya tinggal tersisa beberapa biji saja sehingga aku tak pernah menghabiskan semua makanan yang kau berikan dan membuatmu kecewa? Pernahkah kau berfikir bahwa aku tak pernah ingin balasan darimu? Pernahkah kau berfikir bahwa aku pun ingin menikmati masa tuaku hanya untukmu anakku? Anakku apakah kau tau aku selalu memendam rasa sakit yang ada dalam tubuh ini karena aku tidak mau kau khawatir bahwa sesuatu yang kau butuhkan mungkin tidak akan kau dapatkan karena aku harus membeli obat untuk diriku? Aku tidak ingin membuatmu khawatir bahwa semua biaya keperluanmu akan habis untuk biaya pengobatanku.
Aku hanya ingin memberikan semua padamu bahkan seluruh kesehatanku jika perlu aku akan memberikannya untukmu. Aku tidak pernah memberitahumu bahwa aku selalu takut akan obat yang kubeli akan membuatmu semakin parah ketika kau sakit. Aku tidak pernah memberitahumu bahwa semua yang kulakukan untukmu adalah gratis, jika kau mengira aku malu memilikimu, aku tidak pernah memberitahu bahwa aku korbankan semua rasa maluku ketika kau masih kecil dan menangis kelaparan aku memberikan air susuku didepan semua orang ditempat umum. Ini semua hanya sedikit hal yang tidak semua ku beritahu padamu anakku. Untukmu anakku dari orang tua yang selalu membanggakanmu.
Langganan:
Komentar (Atom)

